KABUT ASAP MEMBURUK, IBU HAMIL PERLU WASPADA
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Kabut asap akibat karhutla di Kalteng tidak hanya soal jarak pandang. Bagi ibu hamil, ini ancaman serius. Salah satu dokter Spesialis Kandungan di Palangka Raya, dr. Putu Aditya, SpOG, M. Biomed, menegaskan ibu hamil adalah kelompok paling rentan saat kualitas udara memburuk.
“Kehamilan membuat sistem imun dan kerja paru berubah. PM2,5 dari asap karhutla itu partikelnya sangat halus, bisa masuk sampai ke alveoli paru, bahkan ke peredaran darah. Ibu hamil tidak bisa dianggap sama seperti orang sehat biasa,” tegas dr. Putu.
Menurutnya, paparan asap pekat berisiko memicu gangguan pernapasan, penurunan suplai oksigen ke janin, hingga komplikasi kehamilan jika dibiarkan tanpa perlindungan.

1. Stop Aktivitas di Luar Jika Tidak Mendesak
“Prinsipnya sederhana. Kalau tidak penting, jangan keluar. Di dalam rumah lebih terkendali daripada di luar yang asapnya padat,” ujar dr. Putu.
2. Jangan Terkecoh Asap Tipis
Ia mengingatkan asap yang terlihat tipis bukan jaminan aman. PM2,5 tidak selalu kasat mata.
“Cek data resmi. BMKG sudah ada pemantauan PM2,5 dan warning kualitas udara ekstrem. Itu yang jadi patokan, bukan mata kita,” katanya.
3. Kunci Rumah dari Asap
Tutup rapat pintu dan jendela. Jika ada, hidupkan air purifier dan jadikan satu ruangan sebagai zona aman bebas asap.
“Dan stop semua sumber polusi di dalam rumah. Jangan ada yang merokok di dekat ibu hamil. Itu sama bahayanya dengan asap karhutla,” ucapnya.
4. Wajib N95 Saat Terpaksa Keluar
Jika harus keluar, dr. Putu menekankan penggunaan respirator yang benar.
“Masker kain tidak cukup. Pakai N95 yang fit, tidak bocor. Kalau longgar, sama saja tidak pakai,” tegasnya. Penyesuaian tetap perlu konsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama bagi ibu dengan sesak.
5. Air Putih dan Nutrisi Jangan Kendor
“Perbanyak air putih. Itu membantu tubuh mengeluarkan polutan. Nutrisi juga harus tetap terjaga, jangan sampai drop karena mual dan stres akibat asap,” jelasnya.
6. Kontrol Kehamilan Tetap Jalan
Kabut asap bukan alasan menunda kontrol. Justru harus lebih ketat.
“Jangan putus kontrol. Kalau muncul batuk berat, sesak napas, pusing hebat, gerakan janin berkurang, langsung ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu berat,” kata dr. Putu.
Ia juga menekankan peran keluarga. Suami dan keluarga harus menjadi garda terdepan.
“Lindungi ibu berarti melindungi dua nyawa. Pastikan ibu di dalam rumah, rumah bersih, makanan dan minum terpenuhi, dan dampingi saat kontrol. Hal sederhana itu dampaknya besar untuk janin,” pungkasnya. ( Tim )












