Danau Semayang Mengering, Warga Berburu Emas
KUTAI KARTANEGARA, LEGIO.ID — Kemarau panjang tidak hanya membuat Danau Semayang di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menyusut. Daratan yang terbuka akibat surutnya air kini dimanfaatkan warga untuk mencari butiran yang mereka yakini sebagai emas.
Aktivitas tersebut ramai dalam sepekan terakhir. Informasi mengenai keberadaan butiran yang disebut emas mulai menyebar dari mulut ke mulut sejak 2 Oktober 2026.
Warga dari Desa Pela, Desa Semayang, Sangkuliman dan kawasan sekitar kemudian mendatangi sejumlah titik di pesisir danau yang mengering untuk mencoba peruntungan.
“Memang pencarian emas secara tradisional ini mendadak ramai dalam sepekan terakhir memanfaatkan surutnya debit air Danau Semayang akibat kemarau,” kata warga Desa Pela, Rudiansyah, seperti dikutip ANTARA, Senin (12/10/2026).
Menurut Rudiansyah, pencarian pada malam hari dinilai lebih efektif oleh warga yang menggunakan alat pendeteksi logam. Sementara warga yang tidak memiliki alat tersebut menggunakan metode sederhana dengan mengerik permukaan tanah.
Rudiansyah mengaku memperoleh sekitar dua gram butiran yang disebut emas pada hari kedua pencarian. Dengan patokan harga yang digunakan warga sekitar Rp1,5 juta per gram, hasil tersebut diperkirakan bernilai Rp3 juta.
Namun, temuan tersebut masih merupakan pengakuan warga. Belum ada keterangan atau hasil pengujian independen yang memastikan material yang ditemukan benar-benar emas.
Warga lainnya, Hidayat, mengatakan pencarian dilakukan menggunakan peralatan sederhana seperti sendok dapur, kuas halus dan bilah papan kayu.
“Pencarian emas dengan metode pengerikan tanah secara tradisional dilakukan masyarakat yang tidak memiliki alat detektor modern,” kata Hidayat.
Fenomena tersebut muncul setelah sebagian besar kawasan Danau Semayang mengering. Warga setempat menyebut kondisi itu berlangsung sejak Agustus 2026 akibat kemarau.
Kekeringan bukan pertama kali terjadi di Danau Semayang. Kondisi serupa pernah dilaporkan terjadi pada 2018 ketika danau mengalami penyusutan akibat periode tanpa hujan yang panjang.
Bagi masyarakat Desa Pela, perubahan kondisi danau memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Desa tersebut dikenal sebagai kawasan masyarakat nelayan yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sumber daya perairan Danau Semayang dan sungai di sekitarnya.
Data yang dikutip dari pengelola Desa Wisata Pela menunjukkan sebagian besar masyarakat setempat bekerja sebagai nelayan tradisional. Hasil tangkapan danau juga menjadi bahan baku berbagai produk olahan perikanan.
Ketika air surut, sebagian warga melihat terbukanya daratan danau sebagai peluang baru. Selain mencari butiran yang disebut emas, kawasan yang mengering juga selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas pertanian musiman.
Di balik peluang ekonomi tersebut, muncul persoalan lain yang perlu mendapat perhatian.
Aktivitas pencarian emas dilaporkan sempat diwarnai isu adanya warga yang membongkar nisan kuno di dekat batu besar. Perangkat desa kemudian mengimbau masyarakat menjaga ketertiban selama aktivitas pencarian berlangsung.
Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin, juga mengingatkan masyarakat agar tidak merusak lingkungan maupun situs sejarah yang berada di kawasan tersebut.
Peringatan itu menjadi penting karena Danau Semayang bukan hanya memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar, tetapi juga merupakan bagian dari kawasan ekosistem perairan Mahakam.
Dokumen Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Mahakam yang diterbitkan Kementerian PUPR mencatat adanya persoalan pendangkalan, gulma air, gangguan daerah tangkapan air serta tekanan terhadap kelestarian danau. Dokumen tersebut juga mencatat kedalaman air di sejumlah bagian Danau Semayang, terutama mendekati Desa Pela, dapat relatif dangkal.
Fenomena mengeringnya danau dan munculnya aktivitas pencarian material yang disebut emas akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah kemarau kali ini hanya menjadi siklus musiman, atau menunjukkan tekanan yang semakin berat terhadap ekosistem Danau Semayang?
Pertanyaan lainnya adalah bagaimana pemerintah memastikan aktivitas warga tidak merusak lingkungan dan situs sejarah, serta apakah material yang ditemukan warga benar-benar mengandung emas.
Untuk saat ini, satu hal yang jelas: ketika air Danau Semayang surut, warga tidak hanya melihat tanah yang terbuka. Mereka melihat peluang baru di tengah tekanan terhadap mata pencaharian sebagai nelayan.
Danau yang mengering telah mengubah aktivitas warga. Dari mencari ikan di air, sebagian kini beralih mengerik tanah untuk mencari keberuntungan di daratan.(Ai/Antara/Tim)











