Hujan belum turun, Pemerintah perkuat operasi Karhutla Kalteng hingga November
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah melalui operasi modifikasi cuaca, pemadaman udara, serta penambahan personel dan peralatan darat. Upaya ini dilakukan karena hujan alami diperkirakan baru turun pada awal November 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dijalankan untuk membantu membasahi wilayah rawan kebakaran. Penyemaian awan dilakukan di lokasi yang memiliki potensi mendukung pembentukan hujan, termasuk wilayah di luar titik kebakaran aktif.
“Seperti yang diprediksi oleh BMKG, hujan alami ini baru akan ada di Kalimantan Tengah ini mungkin nanti di awal November. Sementara operasi modifikasi cuaca terus kita lakukan, kita tidak pernah berpangku tangan,” kata Raja Juli, Rabu (14/10/2026).
Selain OMC, pemerintah mengandalkan water bombing untuk memadamkan api dari udara. Namun, operasi tersebut belum dapat berjalan optimal karena jarak pandang yang terbatas membuat helikopter tidak selalu bisa diterbangkan.
Di darat, jumlah personel dan peralatan pemadaman diperkuat. Pemerintah juga menggunakan drone termal untuk memantau pergerakan kepala api, memetakan kondisi kebakaran, dan menentukan strategi pemadaman yang lebih tepat.
Presiden Prabowo Subianto turut menyiapkan pengiriman ratusan pompa air untuk membantu penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting. Kawasan konservasi ini menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penguatan operasi pemadaman.
Raja Juli menyebut dukungan aparat dan koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran. Ia juga menyatakan pemerintah terbuka terhadap kritik dan evaluasi atas penanganan karhutla.
“Kritik saran, evaluasi, bahkan kritik pedas sekalipun, kami dengar. Itu menjadi motivasi kami untuk bergerak lebih serius lagi untuk mengatasi ini,” ujarnya.
Meski berbagai langkah telah disiapkan, efektivitas penanganan akan ditentukan oleh kemampuan petugas mengendalikan titik api sebelum meluas, keterjangkauan lokasi kebakaran, serta dukungan cuaca. Selama hujan belum turun secara memadai, operasi darat dan udara perlu dijalankan secara konsisten untuk menekan risiko kebakaran dan dampak asap terhadap masyarakat Kalimantan Tengah. (*) (AI/berbagai sumber)











