Gerindra kokoh di Puncak Survei, PDIP membayangi, NasDem terancam tak lolos parlemen
JAKARTA, LEGIO.ID — Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) memimpin elektabilitas partai politik dengan 22,9 persen berdasarkan survei nasional Poltracking Indonesia. PDI Perjuangan (PDIP) berada di posisi kedua dengan 13,4 persen, disusul Partai Golkar sebesar 9,1 persen.
Hasil survei yang dirilis Senin (19/10/2026) itu menunjukkan jarak elektabilitas Gerindra dengan PDIP mencapai 9,5 poin persentase. Posisi teratas tersebut menempatkan Gerindra sebagai partai dengan tingkat keterpilihan tertinggi di antara peserta survei.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda Rasyid, menyebut PKB, PKS, Partai Demokrat, dan NasDem menyusul setelah tiga partai teratas.
“Elektabilitas Gerindra tertinggi, kemudian disusul PDIP, Golkar, PKB, kemudian PKS, Demokrat, NasDem,” kata Hanta, seperti dikutip dari paparan survei Poltracking.
Survei tersebut mencatat PKB meraih elektabilitas 7,1 persen, PKS 5,8 persen, dan Partai Demokrat 5,4 persen. Sementara itu, NasDem memperoleh 3,9 persen, sedikit di bawah ambang batas parlemen 4 persen yang menjadi acuan dalam analisis tersebut.
Jika ambang batas parlemen tetap sebesar 4 persen, Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PKS, dan Demokrat berada di atas batas tersebut. NasDem berpotensi menghadapi tantangan untuk mempertahankan kursi di DPR apabila angka elektabilitas itu tercermin dalam perolehan suara Pemilu mendatang.
Di luar tujuh partai tersebut, PSI meraih 2,9 persen, PAN 2,2 persen, dan PPP 1,6 persen. Perindo memperoleh 0,5 persen, Gelora 0,3 persen, Hanura 0,2 persen, sedangkan sejumlah partai lain masing-masing mencatat 0,1 persen.
Angka yang tak kalah penting adalah 24,2 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Besarnya kelompok ini menunjukkan masih adanya ruang perubahan peta dukungan politik.
Poltracking melaksanakan survei pada 30 September hingga 7 Oktober 2026 melalui wawancara tatap muka. Penelitian melibatkan 1.220 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, dengan metode multistage random sampling.
Survei ini memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Karena itu, hasilnya merupakan gambaran preferensi pemilih pada periode survei, bukan kepastian hasil Pemilu mendatang.
Peta elektabilitas tersebut menjadi indikator awal persaingan partai politik. Tantangan berikutnya adalah mengubah dukungan yang terukur dalam survei menjadi suara nyata melalui kerja organisasi, konsolidasi kader, dan kepercayaan publik. (*) (AI/berbagai sumber)











