Dikepung asap, Menkes akui polusi udara di Kalteng tertinggi
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Di tengah kepungan kabut asap akibat karhutla yang masih terjadi di Kalimantan Tengah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui kualitas udara masuk kategori berbahaya, bahkan tertinggi dari tujuh provinsi yang turut mengalami karhutla di Indonesia.
Masyarakat harus mewaspadai dampak paparan asap yang dapat berkembang dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi gangguan yang lebih berat, termasuk pneumonia, kata Budi disela-sela meninjau kesiapan fasilitas kesehatan di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026).
“Kalau sakitnya sudah menjadi lebih parah, bukan saja ISPA biasa, tapi menjadi pneumonia, harus dibawa ke rumah sakit,” kata Budi.
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah lokasi di Kalteng bahkan telah melampaui angka 300, yang masuk kategori berbahaya. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Menkes pun mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Anak balita, ibu hamil, dan lanjut usia menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih karena lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
“Saya berdoa mudah-mudahan cepat hujan. Kami Kemenkes ingin selalu memastikan dampak yang ditimbulkan seminimal mungkin,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat Kalteng, agar menggunakan masker N95 dengan cara yang benar ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Partikel halus PM2,5 dalam asap berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru.
“Jangan keluar rumah kalau tidak perlu, terutama kelompok rentan, balita, ibu hamil dan orang tua. Usahakan kalau pergi harus pakai masker N95 dengan cara pakai yang benar karena partikel saat ini PM2,5 sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru,” pesannya.
Dalam kunjungan tersebut, Budi meninjau fasilitas pelayanan kesehatan dan Rumah Oksigen untuk memastikan kesiapan penanganan warga terdampak asap. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan dapat memperoleh pertolongan medis secara cepat.
Menkes juga menyerahkan secara simbolis bantuan obat-obatan dan peralatan kesehatan, meliputi masker bedah, masker N95, oxygen concentrator, nebulizer, tabung oksigen, alat pemurni udara (air purifier), serta multivitamin dalam bentuk tablet dan sirup.
Bantuan tersebut diharapkan memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani dampak karhutla. Namun, efektivitas penanganan tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan, melainkan juga distribusi bantuan yang tepat, kesiapan tenaga medis, dan kemudahan akses pelayanan bagi masyarakat.
Di tengah ancaman polusi udara, masyarakat diminta segera mendatangi puskesmas terdekat apabila mengalami batuk atau iritasi pada mata dan kulit. Jika kondisi pernapasan memburuk atau muncul tanda kegawatan, pasien harus segera memperoleh penanganan di rumah sakit.
Kunjungan Menkes menjadi pengingat bahwa penanganan dampak karhutla tidak cukup dilakukan melalui pembagian masker dan penyediaan oksigen. Selama kebakaran dan pencemaran udara masih berlangsung, perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan beriringan dengan upaya memadamkan api dan mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
*Berbagai sumber/AI/E1.











