Karhutla belum tuntas, 2.456 hektare lahan di Kalteng masih dalam penanganan
JAKARTA, LEGIO.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 4.000 hektare lahan masih dalam penanganan hingga 25 Oktober 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa luas lahan terdampak karhutla di Sumatera mencapai 990 hektare. Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung, khususnya kawasan Taman Nasional Way Kambas.
“Di Sumatera saat ini ada 990 hektare yang kami catat,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Senin (26/10/2026).
Sumatera Selatan mencatat area karhutla terbesar di Pulau Sumatera, yakni 889 hektare. Sementara itu, Jambi mencatat 89 hektare dan Lampung 12 hektare.
Di Kalimantan, BNPB menerima laporan 3.392 hektare lahan masih dalam penanganan per 25 Oktober 2026.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan terbesar, mencapai 2.456 hektare. Kalimantan Barat menyusul dengan 880 hektare, terutama di wilayah yang menjadi perhatian, termasuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.
“Perhatian kita tentu terutama di Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Barat khususnya di Kabupaten Ketapang maupun Kayong Utara,” ujar Berton.
Besarnya area yang masih ditangani membuat upaya pemadaman dan pengendalian karhutla di Kalimantan tetap menjadi prioritas. Penanganan di lapangan diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan dampak asap terhadap masyarakat.
BNPB menyatakan tidak lagi menjalankan operasi penanganan karhutla di Provinsi Riau. Curah hujan yang relatif tinggi di wilayah tersebut telah membantu memadamkan banyak area terbakar.
“Perhatian kami terhadap Riau saat ini sudah dialihkan atau tidak lagi beroperasi, karena memang curah hujan alami di sana sudah relatif tinggi dan telah memadamkan banyak lahan yang terbakar,” kata Berton.
Dengan demikian, fokus penanganan BNPB kini tertuju pada wilayah yang masih membutuhkan upaya pemadaman, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. (*) (AI/berbagai sumber)











