Luas panen menyusut, Produksi beras Kalteng 2026 justru diproyeksi naik
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID – Produksi beras di Kalimantan Tengah (Kalteng) sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 199,16 ribu ton. Angka tersebut meningkat 0,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun luas panen padi justru mengalami penurunan cukup signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat, luas panen padi pada 2026 diproyeksikan hanya mencapai 90,42 ribu hektare. Jumlah itu menyusut 6,73 ribu hektare atau 6,93 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 97,15 ribu hektare.
Kepala BPS Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan peningkatan produksi di tengah berkurangnya luas panen menunjukkan bahwa hasil pertanian tidak semata-mata bergantung pada besarnya lahan yang dipanen, tetapi juga produktivitas tanaman.
“Data ini menunjukkan capaian produksi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang dipanen, tetapi juga produktivitas pertanian,” ujarnya saat menyampaikan rilis statistik di Palangka Raya, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), produksi padi Kalteng pada 2026 diperkirakan mencapai 335,28 ribu ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut bertambah 1,85 ribu ton atau 0,55 persen dibandingkan produksi 2025 sebesar 333,43 ribu ton GKG.
Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi luas panen tercatat 87,22 ribu hektare. Jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 87,72 ribu hektare.
Namun, produksi padi justru menunjukkan perkembangan positif. Dalam sembilan bulan pertama 2026, hasil panen mencapai 323,38 ribu ton GKG atau meningkat 6,63 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 303,28 ribu ton GKG.
BPS memperkirakan potensi luas panen pada Oktober hingga Desember 2026 mencapai 3,21 ribu hektare. Sementara tambahan produksi padi pada periode tersebut diproyeksikan sekitar 11,9 ribu ton GKG.
Toto menyebut Agustus menjadi periode dengan produksi padi tertinggi sepanjang 2026, yakni mencapai 70,58 ribu ton GKG. Dari sisi persebaran wilayah, Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Katingan menjadi tiga daerah dengan produksi padi terbesar di Kalteng.
Sebaliknya, Kota Palangka Raya, Gunung Mas, dan Murung Raya masuk dalam kelompok daerah dengan produksi terendah. Penurunan produksi cukup besar juga tercatat di Lamandau, Barito Utara, dan Kotawaringin Barat. Sementara itu, Gunung Mas, Palangka Raya, dan Murung Raya justru mengalami peningkatan produksi.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, total produksi Kalteng sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 199,16 ribu ton. Jumlah tersebut bertambah 1,10 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 198,06 ribu ton.
Produksi beras tertinggi diperkirakan terjadi pada Agustus dengan capaian 41,93 ribu ton. Sebaliknya, Desember diproyeksikan menjadi periode dengan produksi terendah, yakni sekitar 0,33 ribu ton.
Secara keseluruhan, potensi produksi beras selama Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 7,07 ribu ton.
Meski proyeksi produksi menunjukkan peningkatan, penyusutan luas panen tetap menjadi perhatian dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian Kalteng. Pemerintah daerah perlu memastikan produktivitas yang meningkat dapat dipertahankan, sekaligus memperkuat perlindungan lahan pertanian dan menjaga kesinambungan produksi pangan.
Dengan demikian, peningkatan produksi tahun ini tidak hanya menjadi capaian statistik, tetapi juga harus berdampak pada ketersediaan beras dan ketahanan pangan masyarakat di Kalimantan Tengah. (*) (AI/berbagai sumber)










