AI tak lagi sekadar alat bantu, Peluang bisnis baru bermunculan
Jakarta – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis. Teknologi yang sebelumnya banyak digunakan sebagai alat bantu kini mulai melahirkan jenis usaha baru, termasuk industri produksi video berbasis AI.
Reuters melaporkan perkembangan industri tersebut di China menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang mencoba menjadikan AI sebagai bagian utama dari model bisnis mereka. Sejumlah pemerintah daerah bahkan menawarkan dukungan berupa fasilitas, subsidi, hingga akses komputasi untuk menarik perusahaan dan talenta AI.
Perubahan itu menunjukkan bahwa peluang AI tidak hanya berada pada perusahaan teknologi besar. Pelaku usaha di berbagai sektor juga dapat memanfaatkannya untuk menyederhanakan pekerjaan, menekan biaya, sekaligus menciptakan produk dan layanan baru.
Salah satu bidang yang berkembang adalah pembuatan konten. AI dapat membantu menghasilkan materi promosi, gambar, video pendek, hingga konsep iklan tanpa harus melalui seluruh proses produksi konvensional.
Bagi pelaku usaha kecil, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat konten pemasaran secara lebih cepat. Pemilik usaha, misalnya, dapat menggunakan AI untuk menyusun ide promosi, membuat naskah, menerjemahkan materi pemasaran, atau mengembangkan konsep video.
AI juga mulai digunakan untuk menangani pekerjaan administratif. Penyusunan dokumen, pengolahan data, pembuatan ringkasan, hingga layanan pelanggan merupakan beberapa pekerjaan yang dapat dibantu dengan teknologi tersebut.
Namun, perkembangan ini tidak berarti seluruh pekerjaan manusia akan langsung digantikan AI. Justru, kemampuan menggunakan teknologi tersebut dapat menjadi keterampilan tambahan yang semakin dibutuhkan dunia kerja.
Perubahan model bisnis juga terlihat dari langkah perusahaan teknologi besar. Microsoft pada 25 September 2025 menggabungkan sejumlah pasar aplikasi AI untuk bisnis ke dalam satu Microsoft Marketplace, agar pelanggan perusahaan lebih mudah menemukan dan menggunakan berbagai aplikasi serta agen AI.
Di sektor investasi, penggunaan AI juga mulai memengaruhi cara masyarakat memperoleh informasi. Reuters pada 25 September 2025 melaporkan sedikitnya satu dari 10 investor ritel menggunakan chatbot untuk membantu memilih saham. Namun, Reuters juga mencatat bahwa strategi tersebut tetap memiliki risiko dan belum dapat menggantikan peran penasihat investasi tradisional.
Bagi pelaku usaha, perkembangan tersebut memberikan satu pesan penting: AI tidak harus dipandang semata-mata sebagai teknologi canggih yang hanya bisa digunakan perusahaan besar.
Pemanfaatannya dapat dimulai dari kebutuhan sederhana, seperti membuat materi promosi, menjawab pertanyaan pelanggan, mengolah data penjualan, menerjemahkan informasi, membuat desain, hingga membantu pekerjaan administrasi.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi digunakan secara tepat. Informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa, terutama ketika berkaitan dengan data bisnis, keuangan, hukum, atau informasi yang akan disampaikan kepada pelanggan.
Pada akhirnya, peluang bisnis dari AI bukan hanya soal memiliki teknologi terbaru, tetapi bagaimana pelaku usaha menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata, memberikan pelayanan yang lebih baik, dan menciptakan nilai bagi pelanggan.
Sumber: investing.com/AI/J.M











