Lagu AI Tembus Chart Korea, K-Pop Kini Punya Pesaing Baru
Legio.id — Dunia musik Korea Selatan mulai memasuki babak baru. Lagu yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) berhasil menembus Melon TOP100, chart musik digital populer di Korea Selatan yang selama ini juga menjadi arena persaingan para penyanyi dan grup K-Pop.
Lagu tersebut berjudul dari proyek musik Joseon Hip-Hop. Lagu yang dirilis pada Mei 2026 itu, menggunakan AI dalam proses komposisi dan vokalnya. Pada September, lagu tersebut sempat mencapai peringkat 89 di Melon TOP100, dan peringkat 99 di chart harian Melon.
Yang menarik, lagu ini tidak dibuat sepenuhnya oleh mesin. Joseon Hip-Hop menulis lirik dan menentukan konsep lagu, kemudian menggunakan teknologi AI musik Suno untuk membantu proses pembuatan musik dan vokal.
Artinya, manusia dan AI bekerja bersama dalam menghasilkan sebuah karya yang kemudian bersaing di pasar musik yang sama dengan lagu-lagu penyanyi profesional.
Lirik sederhana tentang kelelahan, istirahat, dan memberikan ruang untuk diri sendiri disebut menjadi salah satu faktor yang membuat lagu tersebut mendapat perhatian pendengar. Bahkan, laporan media Korea menyebut kelompok pendengar usia 40-an menjadi salah satu basis pendengar yang menonjol.
Fenomena ini membuat persaingan musik Korea tidak lagi hanya soal siapa penyanyinya, tetapi juga bagaimana sebuah lagu dibuat dan mengapa pendengar menyukainya. Bagi sebagian pendengar, teknologi AI menawarkan cara baru untuk membuat musik dengan biaya dan kemampuan teknis yang lebih mudah dijangkau.
Namun, kemunculan lagu AI juga membawa pertanyaan baru. Siapa yang dianggap sebagai pencipta? Bagaimana hak cipta dibagikan jika manusia dan AI terlibat dalam proses produksi? Dan apakah pendengar perlu diberi tahu ketika sebuah lagu dibuat menggunakan AI?
Perdebatan tersebut bahkan sudah masuk ke ranah industri musik Korea. Korea Music Copyright Association (KOMCA) sempat menetapkan aturan terkait pelaporan dan pendaftaran karya musik yang menggunakan AI, tetapi kemudian menarik perubahan tersebut pada Agustus 2026 dan menyatakan perlunya pembahasan lebih luas bersama parlemen, pemerintah, industri musik, dan pemangku kepentingan lainnya.
Melon sendiri tetap menjadi salah satu pusat perhatian dalam perkembangan ini. Data chart Melon menunjukkan TOP100 diperbarui berdasarkan penggunaan musik, sementara Circle Chart memiliki sistem penghitungan tersendiri berdasarkan jenis data seperti penjualan unduhan. Karena itu, pencapaian ‘Forest of the Mind’ di Melon perlu dipahami sebagai keberhasilan di chart Melon, bukan berarti lagu tersebut otomatis berada di puncak seluruh chart musik Korea.
Masuknya lagu berbasis AI ke chart utama menunjukkan satu hal penting: AI bukan lagi sekadar alat untuk membuat musik percobaan. Teknologi ini mulai bertemu langsung dengan selera pendengar dan mekanisme pasar musik.
Bagi pendengar muda, AI mungkin terasa seperti bagian dari kehidupan digital sehari-hari. Bagi generasi yang lebih tua, fenomena ini membuka pertanyaan sederhana tetapi besar: ketika sebuah lagu bisa dibuat bersama mesin, apakah yang membuatnya disukai tetap sama—cerita, melodi, dan perasaan manusia?.
*Berbagai sumber/AI/J.M











