Matcha, Ube hingga Kimpul: Mengapa Tren Kuliner Gen Z Cepat Berganti?
JAKARTA, LEGIO.ID — Hari ini matcha, besok ube. Setelah itu bisa saja muncul rasa baru yang tiba-tiba memenuhi lini masa media sosial. Begitulah wajah tren kuliner di Indonesia saat ini. Makanan dan minuman bukan lagi sekadar soal rasa, tetapi juga soal tampilan, pengalaman, kreativitas, dan seberapa menarik sebuah produk ketika muncul di media sosial.
Perubahan itu terlihat jelas pada tren matcha yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang dari minuman menjadi beragam dessert dan kreasi makanan. Survei Jakpat terhadap 1.238 responden pada April 2026 menunjukkan 34 persen Gen Z mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir, lebih tinggi dibandingkan Gen X yang berada di angka 17 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa matcha memang memiliki daya tarik yang lebih kuat di kalangan konsumen muda.
Namun, ketika matcha masih ramai, warna ungu mulai mencuri perhatian. Ube, umbi dari spesies Dioscorea alata, belakangan muncul dalam berbagai kreasi seperti latte, dessert, donat hingga kombinasi dengan matcha. Fenomena ube matcha bahkan ikut berkembang melalui konten media sosial karena perpaduan warna hijau dan ungu dianggap menarik secara visual.
Bagi industri makanan dan minuman, pergantian tren itu berlangsung sangat cepat. Business Head of F&B Solutions Indonesia Olam Food Ingredients (ofi), Jacqueline Karina, mengatakan, “Setiap tiga bulan itu selalu muncul tren baru.” Pergeseran tersebut terlihat dari popularitas matcha yang kemudian diikuti eksplorasi ube serta berbagai inovasi pada kopi dan minuman.
Bukan Sekadar Ikut Viral
Menariknya, cepatnya tren global masuk ke Indonesia tidak otomatis membuat konsumen meninggalkan rasa yang sudah akrab di lidah. Data OFI yang dipaparkan dalam Fi Asia Indonesia 2026 menunjukkan 75 persen konsumen Indonesia tertarik mencoba produk baru yang terinspirasi resep tradisional, sementara 84 persen mencari makanan yang mencerminkan warisan budaya mereka. Rasa bahkan menjadi pertimbangan utama bagi 86 persen responden, diikuti harga 82 persen.
Fenomena itu melahirkan apa yang disebut “modern authenticity”—produk modern yang tetap membawa rasa yang familiar. Keripik singkong dengan inspirasi rasa makanan daerah atau camilan dengan karakter Sate Padang menjadi contoh bagaimana cita rasa tradisional dapat dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebiasaan konsumsi generasi muda.
Fenomena serupa terlihat pada kimpul. Pangan lokal yang sebelumnya lebih dekat dengan generasi tua kembali mendapat perhatian setelah diolah secara kreatif dan diperbincangkan di TikTok. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal dapat kembali menjadi tren ketika dikemas secara kreatif dan diperkenalkan melalui kanal digital.
Jadi, mungkin bukan soal matcha mengalahkan ube atau ube menggantikan matcha. Siklus tren kuliner Gen Z justru menunjukkan pola yang lebih menarik: sesuatu yang baru cepat menarik perhatian, tetapi rasa yang memiliki cerita dan kedekatan budaya tetap mempunyai ruang. Tantangannya bagi pelaku F&B adalah menemukan cara membuat rasa lama terasa baru—tanpa kehilangan identitasnya.
Dari matcha, ube sampai kimpul, satu hal terlihat jelas: Gen Z tidak hanya mencari makanan untuk disantap, tetapi juga sesuatu yang punya cerita untuk dibagikan.
Sumber: Jakpat, OFI/Fi Asia Indonesia 2026, Bisnis.com, ANTARA, detikFood.











