Peluang kesembuhan kanker seharusnya tak ditentukan ekonomi
JAKARTA, LEGIO.ID – Kemajuan teknologi medis membuka peluang baru dalam pengobatan kanker melalui imunoterapi, terapi target, dan pengobatan presisi berdasarkan karakteristik genetik tumor. Namun, tingginya biaya pengobatan dan belum meratanya fasilitas kesehatan masih menjadi tantangan dalam memastikan seluruh pasien memperoleh layanan yang optimal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Global Status Report on Cancer 2026, yang diterbitkan pada Juli 2026 mengungkapkan bahwa perkembangan penelitian dan teknologi pengobatan kanker belum sepenuhnya diikuti pemerataan akses layanan kesehatan di berbagai negara.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan, peluang kesembuhan dan kelangsungan hidup pasien kanker seharusnya tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi maupun tempat tinggal mereka.
“Namun, apakah seseorang dapat bertahan hidup dari kanker seharusnya tidak pernah bergantung pada tempat mereka dilahirkan atau seberapa besar penghasilan mereka,” kata Tedros dalam pernyataan resmi WHO pada tanggal 8 Juli 2026.
Menurut WHO, dunia mencatat sekitar 20,6 juta kasus baru kanker dan hampir 10 juta kematian akibat penyakit tersebut setiap tahun. Tanpa langkah pencegahan dan penguatan pelayanan kesehatan yang memadai, jumlah kasus baru kanker diproyeksikan meningkat hingga mendekati 35 juta kasus per tahun pada 2050.
Di tengah tingginya beban penyakit tersebut, berbagai pendekatan pengobatan terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan kualitas hidup pasien. Salah satunya imunoterapi, yakni pengobatan yang membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker.
Berbeda dengan kemoterapi yang bekerja dengan menyerang sel yang berkembang cepat, imunoterapi tertentu bekerja dengan membantu sistem imun memberikan respons terhadap sel kanker.
Selain imunoterapi, terapi target juga semakin berkembang. Pengobatan ini menggunakan obat yang bekerja terhadap molekul atau perubahan tertentu pada sel kanker yang berperan dalam pertumbuhan dan penyebaran tumor.
Sementara itu, pengobatan presisi memungkinkan dokter menentukan pilihan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan biomarker, termasuk perubahan genetik dan karakteristik molekuler tumor.
Pendekatan tersebut memberikan peluang pengobatan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, meskipun tidak semua jenis kanker memiliki biomarker yang dapat ditargetkan dan tidak semua pasien cocok menerima terapi tersebut.
National Cancer Institute Amerika Serikat menjelaskan bahwa pemeriksaan biomarker menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan pengobatan kanker yang tepat.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengidentifikasi karakteristik tertentu pada sel kanker untuk membantu memilih terapi yang berpotensi memberikan manfaat lebih besar.
Biaya pengobatan masih menjadi kendala
Meskipun inovasi terus berkembang, WHO mengungkapkan kesenjangan besar dalam ketersediaan obat kanker antara negara berpenghasilan tinggi dan negara berpenghasilan rendah.
Laporan WHO 2026 menunjukkan bahwa ketersediaan 20 obat kanker prioritas di negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah berkisar antara sembilan hingga 54 persen, sedangkan di negara berpenghasilan tinggi mencapai 68 hingga 94 persen.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum otomatis menjamin seluruh pasien memperoleh pengobatan yang dibutuhkan.
WHO juga mencatat tingkat kelangsungan hidup lima tahun pasien kanker payudara mencapai sekitar 87 persen di negara berpenghasilan tinggi, tetapi hanya sekitar 42 persen di negara berpenghasilan rendah.
Pada September 2025, WHO memperbarui daftar obat esensial dengan memasukkan sejumlah terapi kanker, termasuk imunoterapi tertentu, sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap pengobatan yang terbukti memberikan manfaat klinis.
Yukiko Nakatani selaku Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Sistem Kesehatan, Akses dan Data mengatakan, pembaruan tersebut merupakan langkah penting untuk meningkatkan ketersediaan pengobatan.
“Daftar obat esensial edisi terbaru menandai langkah penting menuju perluasan akses terhadap obat-obatan baru yang memiliki manfaat klinis terbukti,” tandasnya. *WHO/AI/J.M.










