TARAKAN PUNYA “TAMBANG” ENERGI DI TPA: 25 RIBU TON SAMPAH PER TAHUN BISA JADI LISTRIK
TARAKAN, LEGIO.ID KALTARA — Kota Tarakan berpotensi menghasilkan 22.658,2 kWh listrik per tahun dari 25.590,3 ton sampah organik yang dihasilkan sepanjang 2024, menurut riset Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan data DLH Kota Tarakan. Komposisi sampah organik didominasi sisa makanan (43,56%), kertas/karton (9,19%), dan kayu/ranting (7,31%) — semuanya dapat dikonversi menjadi biogas melalui fermentasi anaerob untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Namun hingga kini, tidak ada satu pun PLTSa yang beroperasi di Tarakan; sampah masih diangkut dan ditimbun.
Simulasi PLTSa berbasis logika fuzzy dengan data Januari 2024–Mei 2025 menunjukkan produksi listrik yang konsisten mengikuti volume sampah. Januari 2024, dengan 2.287,2 ton sampah dan 155,4 m³ metana, diestimasi menghasilkan 1.735,8 kWh; Februari 2024, dengan 1.367,4 ton dan 92,9 m³ metana, turun menjadi 1.037,8 kWh. Peneliti menyebut sistem ini representatif, meski masih berupa simulasi komputer yang perlu validasi lapangan.
PLTSa menawarkan solusi ganda: mengurangi beban sampah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel. Riset lain bahkan menemukan bakteri lumpur mangrove Tarakan berpotensi menghasilkan listrik melalui Microbial Fuel Cells, dengan tegangan puncak 243 mV — meski masih skala laboratorium. Permen ESDM 13/2019 sudah membuka jalan bagi PLTS atap, tetapi belum ada Perda yang mengatur pengelolaan sampah berbasis energi di Tarakan.
Lima langkah kebijakan yang direkomendasikan: menyusun Perda Energi Terbarukan, membangun pilot project PLTSa skala kecamatan, mengalokasikan anggaran riset lanjutan, menjalin kemitraan UBT–Pemkot, dan menyiapkan SDM teknis. Teknologinya sudah ada dan sudah dihitung potensinya — yang belum ada adalah kemauan politik untuk beralih dari “mengurus sampah” ke “mengelola energi”. Berapa lama lagi 25 ribu ton sampah per tahun terbuang percuma?
Sumber: Jurnal penelitian/AI/O











