Asta Ivo: Pemimpin Masa Depan Tak Cukup Hanya Cerdas, Harus Berintegritas
JAKARTA.LEGIO.ID — Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga integritas dan keberanian moral untuk menghadapi perubahan teknologi, ketidakpastian ekonomi, serta dinamika politik.
Hal itu disampaikan Ir. Asta Ivo Bonny Sembiring, S.T., Project Director Perum Perumnas Samesta Pasadana Bandung, saat menyampaikan materi bertajuk “Navigating Adaptive Leadership Amid Waves of Disruption” dalam kegiatan Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) PP PMKRI Periode 2026–2028, Jumat (16/10/2026).
Menurut Asta, kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, kemampuan akademik, atau kepandaian berbicara. Pemimpin harus mampu menerjemahkan nilai yang diyakininya ke dalam tindakan yang bertanggung jawab.
“Yang dicari saat ini bukan orang yang hanya pintar saja, tetapi orang yang mempunyai integritas,” tegas Asta.
Ia menilai kecerdasan tanpa integritas dapat membuat kekuasaan kehilangan orientasi pelayanan. Karena itu, proses kaderisasi kaum muda Katolik harus diarahkan pada pembentukan karakter, kepekaan sosial, dan keberanian memperjuangkan kepentingan bersama.
“Tugas organisasi seperti kita ini bukan hanya menjadi mitra kritis dan mitra strategis. Tugas kita yang paling penting daripada itu adalah melahirkan pendidikan kaderisasi yang di dalamnya terdapat jiwa kekatolikan itu sendiri,” katanya.
Asta menekankan, nilai Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas tidak cukup menjadi identitas organisasi. Nilai tersebut harus terlihat dalam cara kader mengambil keputusan, memperlakukan sesama, menyikapi perbedaan, serta menjalankan tanggung jawab sosial.
Menurut dia, kader muda Katolik juga perlu memiliki kemampuan menawarkan solusi. Sikap kritis terhadap pemerintah dan berbagai persoalan sosial harus berjalan bersama dengan kemampuan menjaga independensi dan memperjuangkan martabat manusia.
Dalam membahas kepemimpinan, Asta mengangkat sejumlah kearifan lokal sebagai sumber pembelajaran. Ia menjelaskan falsafah kepemimpinan Siliwangi melalui prinsip Nerus Bumi, Ngapak Mega, dan Napak Sancang, yang menekankan pentingnya memahami realitas masyarakat, memiliki pandangan jauh ke depan, dan berani mengambil keputusan.
Ia juga memperkenalkan nilai kepemimpinan masyarakat Karo melalui Endi Enta, Runggu, Ngeripe, dan Aron yang menekankan kontribusi, musyawarah, solidaritas, dan gotong royong.
“Musyawarah bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar, siapa yang paling kuat, atau siapa yang memiliki jabatan paling tinggi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menemukan keputusan yang terbaik untuk kepentingan bersama,” ujarnya.
Nilai tersebut, kata Asta, penting dalam membangun kepemimpinan kolektif. Tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan kepada orang-orang yang berada di posisi puncak, tetapi harus menjadi komitmen bersama.
Ia juga menempatkan transparansi sebagai salah satu fondasi kepercayaan. Keterbukaan, menurutnya, harus dimulai dari lingkungan organisasi dan kelompok sendiri sebelum seseorang menuntut akuntabilitas dari pihak lain.
“Caranya bagaimana? Transparansi. Sesederhana transparansi ketua presidium kepada anggota presidium, pengurus kepada ketua lembaga,” katanya.
Bagi Asta, independensi tidak cukup ditunjukkan melalui keberanian mengkritik kekuasaan. Independensi juga harus tercermin dalam tata kelola yang terbuka, konsistensi terhadap nilai, dan keberanian menolak kepentingan pragmatis.
Menghadapi perubahan yang cepat, ia mendorong kader muda untuk memiliki kemampuan mengevaluasi keputusan dan memperbaiki kesalahan.
“Kalau dari sepuluh hal yang sudah dilakukan ternyata ada dua yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah memperbaiki dua kesalahan tersebut. Kita harus mengetahui mana yang salah dan berani memperbaikinya,” katanya.
Asta menegaskan, kepemimpinan adaptif bukan berarti mengubah prinsip setiap kali menghadapi persoalan. Yang perlu diperbarui adalah strategi, sementara nilai dasar tetap menjadi pijakan.
“Pesan saya ada tiga: tetap berjuang, tetap berkembang, dan jangan menyerah,” katanya.
Menurut Asta, tantangan kader muda Katolik ke depan bukan sekadar mampu membaca perubahan, tetapi memiliki integritas dan keberanian untuk mengarahkan perubahan menuju keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan bersama.(*)











