Kaderisasi Terus Berjalan, PMKRI Palangka Raya Tegaskan Komitmen Menjaga Roh Perjuangan
PALANGKA RAYA, 15 Oktober 2026 — Kaderisasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi sekaligus memastikan nilai perjuangan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komitmen itu ditegaskan dalam Masa Penerimaan Anggota Baru I (MPAB I) PMKRI Cabang Palangka Raya “Sanctus Dionisius” Tahun 2026, Kamis (15/10/2026). Kegiatan mengangkat tema “Menciptakan Kader Veritas Berlandaskan Nilai-nilai Kekatolikan untuk Gereja dan Tanah Air”.
Kegiatan tersebut dihadiri Pastor Moderator, depertim, pendamping, serta sejumlah undangan dari organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan di Palangka Raya.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Palangka Raya mengatakan, setiap jenjang kaderisasi harus dijalankan secara konsisten sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi sebagai wadah kader.
“Setiap tingkatan kaderisasi harus terus kita laksanakan secara konsisten. Ini bukan hanya agenda organisasi, tetapi tanggung jawab kita untuk menjaga roh PMKRI sebagai organisasi kader. Melalui kaderisasi, kita memastikan proses pembentukan dan regenerasi terus berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, kaderisasi tidak sekadar menjadi proses penerimaan anggota baru. Proses tersebut merupakan bagian dari pembentukan kader agar memiliki kemampuan intelektual, karakter, kepedulian sosial, serta kesadaran untuk mengambil peran bagi Gereja dan tanah air.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap proses kaderisasi.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang selama ini setia mendukung dan membantu kami dalam menjalankan proses kaderisasi. Dukungan tersebut menjadi kekuatan bagi pengurus untuk terus menjalankan tanggung jawab organisasi,” katanya.

Semangat untuk menjaga keberlanjutan perjuangan juga disampaikan Adam Silvanus dalam sambutannya. Ia mengingatkan para kader agar tetap setia pada jalan perjuangan dalam menghadapi berbagai situasi.
“PMKRI harus tetap setia pada jalan perjuangan. Apa pun yang terjadi, PMKRI harus tetap hidup,” tegas Adam.
Menurut Adam, keberlangsungan organisasi tidak hanya bergantung pada struktur kepengurusan, tetapi juga pada kesediaan setiap generasi untuk merawat nilai dan perjuangan yang telah diwariskan.
Pesan tersebut menempatkan kaderisasi sebagai proses yang tidak berhenti pada regenerasi struktural. Kader dituntut terus belajar, membaca perubahan, memahami persoalan sosial, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Pendamping dalam kepengurusan PMKRI Cabang Palangka Raya periode 2026–2027, Freddy Simamora, memberikan apresiasi terhadap konsistensi pengurus dalam menjalankan proses kaderisasi.
“Saya mengapresiasi keteguhan pengurus yang terus menjaga api kaderisasi. Kader harus terus mengasah ketajaman berpikir, kekritisan, dan kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya,” kata Freddy.
Menurut Freddy, kemampuan berpikir kritis harus berjalan bersama dengan tanggung jawab untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kita membutuhkan kader yang kritis, tetapi kritik itu harus disertai tanggung jawab. Kader harus mampu membaca persoalan, memahami akar masalah, dan berani mengambil bagian dalam mencari solusi,” ujarnya.
Ia berharap proses kaderisasi yang terus berjalan dapat membentuk kader muda yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga kepekaan sosial, karakter, dan keberanian untuk mengambil sikap terhadap berbagai persoalan.
“Kaderisasi jangan berhenti pada proses menjadi anggota atau pengurus. Proses belajar harus terus berjalan. Kader harus terus mengasah kemampuan berpikir, tetap kritis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat,” katanya.
MPAB I tersebut diawali dengan Misa Pembukaan bersama Pastor Moderator. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan registrasi, technical meeting, sidang pembukaan, perkenalan dan kontrak psikologis, serta pre-review.
Bagi kader muda, kesinambungan proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga roh organisasi kader. Regenerasi tidak hanya berarti menghadirkan anggota dan pengurus baru, tetapi memastikan nilai, semangat perjuangan, daya kritis, dan kepedulian sosial tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)











