Dari Pramuka ke Simbol Perlawanan, Begini Sejarah dan Makna Salam Tiga Jari
JAKARTA, LEGIO.ID — Salam tiga jari atau three-finger salute yang belakangan terlihat dalam sejumlah aksi demonstrasi di Indonesia bukan sekadar gestur tangan, melainkan simbol yang maknanya berubah mengikuti perjalanan sejarah, budaya populer dan gerakan politik di berbagai negara.
Secara visual, salam ini umumnya dilakukan dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, sementara ibu jari menekan atau menahan kelingking yang ditekuk.
Bentuk tersebut ternyata telah digunakan dalam gerakan kepanduan jauh sebelum dikenal sebagai simbol demonstrasi.
Dalam buku Scouting for Boys yang diterbitkan Robert Baden-Powell pada 1908, gerakan Pramuka menggunakan tiga jari yang ditegakkan sebagai bagian dari Scout Sign. Baden-Powell menjelaskan bahwa tiga jari tersebut mewakili tiga bagian utama janji Pramuka. Ibu jari yang menekan kelingking juga memiliki makna tersendiri dalam tradisi kepanduan.
Artinya, secara historis bentuk tiga jari tidak lahir sebagai simbol perlawanan politik.
Makna politik yang sekarang melekat pada gestur tersebut berkembang jauh kemudian melalui budaya populer.
Dalam novel The Hunger Games karya Suzanne Collins yang terbit mulai 2008, salam tiga jari digunakan masyarakat Distrik 12. Dalam cerita, gestur tersebut pada awalnya merupakan tanda penghormatan, rasa terima kasih, kekaguman dan perpisahan kepada orang yang dicintai.
Seiring perkembangan cerita, gestur itu berubah menjadi simbol solidaritas dan perlawanan masyarakat terhadap pemerintahan otoriter Capitol. Kajian akademik mengenai perjalanan simbol tersebut menyebut penggunaan dalam dunia nyata kemudian berkembang di sejumlah gerakan protes, terutama di Asia Tenggara.
Namun, penting dicatat, tidak ada bukti kuat bahwa Suzanne Collins menciptakan bentuk tiga jari tersebut dari nol. Kajian akademik justru mencatat bahwa salam tiga jari memiliki kemiripan dengan bentuk salam yang telah digunakan organisasi Pramuka dan Pandu di berbagai negara. Peneliti juga menyatakan belum menemukan pernyataan Collins yang secara terbuka menjelaskan sumber inspirasinya terhadap gestur tersebut.
Perubahan terbesar terjadi di Thailand pada 2014.
Beberapa hari setelah kudeta militer pada 22 Mei 2014, kelompok anak muda menggunakan salam tiga jari sebagai bentuk penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer. Pada 1 Juni 2014, gestur tersebut muncul dalam aksi-aksi kecil di Bangkok dan kemudian menyebar melalui media sosial.
Militer Thailand kemudian memandang salam tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap kudeta. Bahkan, pada saat itu aparat memperingatkan peserta aksi agar tidak menggunakan gestur tersebut dalam kelompok massa.
Di Thailand, maknanya kemudian berkembang. Sejumlah aktivis menghubungkannya dengan kebebasan, kesetaraan dan solidaritas, sementara kelompok lainnya mengaitkannya dengan tuntutan politik seperti penolakan kudeta, kebebasan dan demokrasi.
Dari Thailand, salam tiga jari kemudian muncul dalam gerakan pro-demokrasi di kawasan lain.
Di Myanmar, gestur tersebut menjadi simbol penting dalam aksi menentang kudeta militer 2021. Tenaga kesehatan dan kelompok masyarakat sipil menggunakan salam tersebut sebelum kemudian diikuti demonstran dalam aksi yang lebih luas. Maknanya terutama berkembang sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan militer.
Kajian akademik yang menelusuri penggunaan salam tiga jari dalam pemberitaan internasional menemukan pola yang cukup konsisten. Dalam konteks Thailand dan Myanmar, fungsi yang paling sering dilekatkan pada gestur tersebut adalah protes, perlawanan dan penolakan terhadap otoritas. Namun, penelitian itu juga menegaskan bahwa makna simbol tidak bersifat permanen dan dapat berubah mengikuti konteks sosial-politik tempat simbol tersebut digunakan.
Di Indonesia, salam tiga jari kembali mendapat perhatian dalam aksi mahasiswa dan masyarakat sipil pada 2026.
Dalam aksi yang berlangsung pada 28 Oktober 2026, simbol tersebut digunakan dalam gerakan #IndonesiaSadar. Sejumlah peserta mengaitkannya dengan kritik terhadap persoalan sosial dan kebijakan pemerintah, antara lain melalui slogan “sadar dipalak, sadar dibakar, dan sadar dimiskinkan”.
Dalam aksi mahasiswa pada Oktober 2026 lainnya, simbol tiga jari juga dikaitkan dengan solidaritas, kebebasan, kesetaraan dan perlawanan terhadap kekuasaan. BEM UI menjelaskan penggunaan simbol tersebut dalam konteks sejarah gerakan pro-demokrasi di sejumlah negara.
Karena itu, salam tiga jari tidak tepat jika hanya diterjemahkan sebagai “simbol pemberontakan”.
Maknanya bergantung pada konteks.
Dalam tradisi Pramuka, tiga jari berkaitan dengan nilai dan janji kepanduan. Dalam The Hunger Games, ia menjadi tanda penghormatan yang kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoriter. Di Thailand, simbol tersebut menjadi bahasa visual penolakan terhadap kudeta dan tuntutan demokrasi. Di Myanmar, ia menjadi simbol solidaritas dan perlawanan terhadap junta militer. Sementara di Indonesia, maknanya kembali ditafsirkan oleh kelompok-kelompok yang menggunakannya sesuai tuntutan dan pesan politik masing-masing.
Dengan demikian, yang relatif tetap bukan satu arti tunggal dari tiga jari, melainkan kemampuannya menjadi bahasa visual untuk menyatakan kebersamaan, solidaritas dan penolakan terhadap sesuatu yang dianggap tidak adil atau represif.
Bagi masyarakat yang melihat simbol tersebut dalam demonstrasi, memahami sejarahnya menjadi penting agar gestur tidak dinilai hanya dari bentuknya. Makna politiknya harus dibaca bersama siapa yang menggunakannya, dalam aksi apa, tuntutan apa yang dibawa dan pesan apa yang secara terbuka disampaikan oleh kelompok tersebut.(*)











