‘Di Balik Rumor MAHASEWA’
Oleh Thom Sembiring
Di era LSP, rumor praktik mahasewa makin merebak. Apa yang terjadi pada demonstran yang melakukan unjuk rasa lalu diterima Wapres itu adalah salah satu yang muncul secara publik.
Saat itu kampus langsung memberi sanksi pada mahasiswa yang mengaku menerima sejumlah uang dari oknum. Apakah karena sanksi itu, kemudian acara bersama institusi baju coklat dan artis popular itu sulit pakai mahasiswa asli dan akhirnya asal pakaikan jas almamater kampus ke sembarang orang? Entahlah.
Tapi ini dari perspektif lain. Bahwa di kalangan kanda dinda, aktivis pergerakan mahasiswa yang tergabung dalam branding Cipayung, sebenarnya juga sudah banyak desas-desus. Soal praktik asu mengasuh.
Ya. Pada era JKW, operasi konon dilakukan untuk menjinakkan gerakan mahasiswa. Tidak lewat IUP tambang tentu saja. Cukup ala tarik tambang saja. Alias bermain seolah gerakan mahasiswa dan kekuasaan saling beradu kekuatan, tapi ya itu sekadar permainan.
Maka banyak dana digelontorkan untuk para aktivis ini katanya. Dibuatkan acara jambore mahasiswa hingga petinggi-petinggi organisasi di pusat diberikan layanan khusus dan dana yang tak pernah jelas rimbanya ke organisasi.
Dalam konteks LSP, pendekatannya adalah citra kuasa dan pengasuhan. Banyak dinda-dinda itu seperti istilah mereka, adik asu. Eh adik asuh. Beberapa dari mereka diberi jabatan mentereng staf ahli Kapolri. Beberapa yang lain dalam kepengurusan organisasi, tanpa gelar tapi diberi akses yang lain termasuk konon jalan-jalan ke luar negeri. Siapa tidak bangga, bisa foto dan santai bareng Kapolri? Ketua Umum PDIP saja sulit ketemu, tapi dinda-dinda ini bisa mudah bertamu.
Beberapa bahkan bangga pajang di medsos foto mesra dengan pria berseragam yang mendadak dijadikan tersangka itu, captionnya: “Bersama kakak asuh”. Keren kan dipandang.
Sebagai seorang jurnalis, saya mengamati dari sisi media bagaimana adik-adik asuh itu diolah. Suara dan posisi organisasi adik-adik itu diolah dalam rilis dan advertorial untuk membangun citra institusi. Lalu setelah tampil di media massa, muncul lagi di media sosial. Tapi jujur saja, sejak praktik itu berlangsung, citra gerakan mahasiswa yang garang pun memang perlahan menghilang. Strategi penjinakannya terbilang keren.
Apakah ini kaitan dengan anggaran lembaga yang kian membesar selama ini? Apakah ada kaitan dengan praktik asu mengasuh ini? Wallahualam. Tapi saat LSP jadi tersangka, ada momen bagus Prabowo untuk tampil di depan pergerakan.
Sekarang, saat Prabowo akhirnya menekuk LSP, baik bila praktik asu mengasuh itu juga diselidiki kebenarannya. Prabowo bisa dengan mudah menampar muka organisasi kemahasiswaan yang berdemo bayaran, dengan membuka data aktivis yang dibayari oleh LSP selama ini.
Sudah beberapa kali Prabowo sebut di media, kalau demonstrasi itu bayaran dan dia akui ada yang bayar. Jadi ini momentum bagus. Supaya sekalian, organisasi itu bisa tahu, elitnya yang suka jual nama dan pengaruh organisasi untuk kepentingan diri sendiri.
Prabowo dapat kepercayaan publik karena omongannya soal demonstrasi bayaran terbuktikan, gerakan mahasiswa dapat informasi untuk bersih-bersih dalam barisan pergerakan. Dua-duanya mendapat keuntungan secara publik.
Siapapun kawan-kawan aktivis yang mendukung rezim dan dekat dengan Prabowo, bisa menyampaikan saran ini. Kalian bisa mendapat muka di hadapan Presiden, sekalian hitung-hitung kalian ikut tanggung jawab membersihkan pergerakan dari praktik yang suka memperkaya pucuk elit organisasi mahasiswa dan kepemudaan dengan modus jualan pengaruh.
Ada yang berani? Kita tunggu sambil ngopi dan ingatkan karhutla masih terjadi. Papua kini yang mengalami.
*Penggagas Gerakan Jangkar Nusantara











