Agnes Monika pimpin PMKRI Jambi, PP PMKRI ingatkan kader jangan wariskan konflik
JAMBI, LEGIO.ID – Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas resmi melantik Agnes Monika Lumban Raja sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Jambi Sanctus Agustinus periode 2026–2027. Pelantikan dilakukan oleh Presidium Riset dan Teknologi PP PMKRI, Dawita Rama, Sabtu (31/102026).
Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi momentum regenerasi organisasi setelah melalui Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC). Dalam kesempatan itu, Dawita menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan, integritas kader, serta pembaruan tradisi intelektual di tubuh PMKRI.
Dawita menilai terpilihnya Agnes sebagai ketua presidium menjadi bukti bahwa perempuan memiliki ruang dan kapasitas yang sama untuk menentukan arah organisasi.
“Ini menjadi momentum yang istimewa, ketika seorang perempuan berani berdiri tegak di garis depan kepemimpinan dan mendobrak sekat-sekat patriarki. Ketua Agnes menegaskan kembali bahwa perempuan bukan hanya berhak hadir dan bersuara, tetapi juga berhak mengambil keputusan, menentukan arah, dan memimpin perubahan,” ujar Dawita.
Mengangkat tema Mewujudkan Regenerasi Kepemimpinan yang Berintegritas demi Kader PMKRI yang Adaptif dan Progresif, Dawita mengingatkan bahwa kepemimpinan baru harus bertumpu pada tiga nilai utama: integritas, adaptif, dan progresif.
Menurutnya, integritas seorang pemimpin tidak ditentukan oleh jabatan, pengaruh, maupun kekuasaan, melainkan konsistensi antara perkataan, pikiran, dan tindakan.
“Jangan sampai organisasi yang seharusnya menjadi ruang perjuangan justru berubah menjadi ruang perebutan kekuasaan, sementara tanggung jawab dan pengabdian justru dilupakan,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh kader menjaga konstitusi organisasi, termasuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Ketetapan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA), serta aturan internal lainnya.
Dawita menilai perkembangan teknologi, transformasi digital, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menuntut PMKRI untuk terus berbenah. Organisasi mahasiswa, katanya, tidak boleh tertinggal dalam memahami perubahan zaman.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan. Nilai kemanusiaan, kemampuan berpikir kritis, refleksi moral, dan tanggung jawab tidak boleh tergantikan oleh kecanggihan mesin.
Selain adaptif, PMKRI juga dituntut menjadi organisasi progresif. Artinya, gerakan kader tidak boleh berhenti pada diskusi, kritik, dan pernyataan sikap.
“Organisasi harus mampu melahirkan gagasan, menawarkan alternatif kebijakan, serta menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat,” menjadi penekanan Dawita dalam arahannya.
Ia menegaskan, semangat tersebut harus sejalan dengan visi PMKRI dalam memperjuangkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati. Keberpihakan terhadap kelompok tertindas harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sebatas slogan organisasi.
Sementara itu, Agnes Monika Lumban Raja mengaku haru sekaligus gugup setelah resmi menerima mandat sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Jambi Sanctus Agustinus periode 2026–2027.
“Hari ini saya berdiri di sini bukan dengan perasaan bangga, tetapi dengan perasaan deg-degan, sambil sedikit berpikir, ‘Wah, ini benar-benar sudah resmi, ya?’” ungkap Agnes.
Ia memandang jabatan ketua presidium bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan kesungguhan. Dalam tradisi PMKRI, tanggung jawab kepemimpinan tersebut dimaknai sebagai salib abadi.
Agnes juga mengajak seluruh kader dan senior untuk memberikan dukungan, pendampingan, serta kritik konstruktif selama masa kepemimpinannya.
“Kalau saya salah, tolong diingatkan dengan kasih. Kalau saya kurang, mari kita lengkapi bersama,” tuturnya.
Sikap tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membangun kepemimpinan kolektif yang terbuka terhadap evaluasi dan tidak berjalan sendiri.
Menutup arahannya, Dawita mengajak seluruh kader menjadikan perbedaan sebagai kekuatan organisasi, kritik sebagai sarana evaluasi, dan kaderisasi sebagai investasi masa depan.
Ia mengingatkan bahwa konflik internal yang tidak diselesaikan dengan baik hanya akan membebani kepengurusan berikutnya. Sebaliknya, organisasi harus mewariskan nilai, pengetahuan, keberanian, serta budaya berpikir kritis kepada generasi penerus.
“Jangan wariskan konflik kepada generasi berikutnya. Wariskan nilai, pengetahuan, keberanian, dan tradisi intelektual,” pungkas Dawita.
Pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi PMKRI Cabang Jambi Sanctus Agustinus. Kepemimpinan baru Agnes Monika Lumban Raja kini ditantang untuk memperkuat kaderisasi, menjaga integritas organisasi, serta membangun gerakan mahasiswa yang kritis, adaptif, dan progresif dalam menjawab persoalan masyarakat. (*)











