Enam tahun food estate, Kalteng masih datangkan beras premium
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID – Enam tahun menjadi lokasi pengembangan program strategis nasional yakni food estate, Kalimantan Tengah masih harus mendatangkan 150 ton beras premium dari Sulawesi Selatan, sebagai upaya menekan harga beras yang menjadi salah satu pemicu inflasi daerah.
Pengadaan beras tersebut dilakukan Bank Indonesia (BI) bersama Perum Bulog dan Pemerintah Provinsi Kalteng melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Selasa (13/10).
Kepala Perwakilan BI Kalteng Yuliansah Andrias di Palangka Raya, Selasa, menjelaskan melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), skema ini ditujukan untuk memperkuat pasokan, menjaga keterjangkauan harga beras dan melindungi daya beli masyarakat, khususnya di tiga wilayah utama pencatatan Indeks Harga Konsumen (IHK) meliputi Palangka Raya, Kotawaringin Timur serta Kapuas.
“FDP merupakan langkah konkret untuk merespons tekanan inflasi, khususnya dari komoditas beras,” ujar Andrias.
Kondisi itu tentunya menjadi perhatian mengingat program food estate yang dimulai sejak 2020 di Kalteng, khususnya Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau, bertujuan meningkatkan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Kalteng justru turun dari 457,95 ribu ton gabah kering giling (GKG) pada 2020 menjadi 333,43 ribu ton pada 2025, atau berkurang sekitar 27,2 persen. Luas panen juga menyusut dari 143,28 ribu hektare menjadi 97,15 ribu hektare atau turun 32,2 persen dalam periode yang sama.
Padahal, berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, pengembangan food estate di Kapuas dan Pulang Pisau mencakup kegiatan intensifikasi seluas 44.135 hektare selama 2020โ2021. Kedua kabupaten tersebut masih menjadi sentra produksi padi Kalteng dengan kontribusi sekitar 60,5 persen dari total produksi provinsi pada 2025.
Namun, besarnya produksi gabah belum diikuti kemampuan daerah memenuhi kebutuhan beras premium.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kalimantan Tengah Erwin Budiana mengakui keterbatasan infrastruktur pengolahan menjadi salah satu kendala penyediaan beras premium dari produksi lokal.
“Untuk beras premium ini, untuk Kalteng memang masih belum bisa, Pak. Karena secara infrastruktur, untuk Kalimantan Tengah itu memang kita belum memiliki sarana untuk menghasilkan beras dengan kualitas premium,” kata Erwin di Palangka Raya, Selasa.
Adapun 150 ton beras premium yang didatangkan dari Sulawesi Selatan itu akan disalurkan ke Palangka Raya sebanyak 75 ton, Kotawaringin Timur 50 ton, dan Kapuas 25 ton.
Beras dipasarkan dengan harga maksimal Rp15.400 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga rata-rata beras premium di Kalteng yang mencapai Rp17.195 per kilogram pada 12 Oktober 2026. *Berbagai sumber/AI/Tim.











