ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 283 Ribu Kasus, 63 Ribu dialami balita
Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 13 Oktober 2026 mencapai 283.270 kasus, yang diantaranya 63.711 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami anak usia di bawah lima tahun (balita).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Provinsi Kalimantan Selatan menjadi yang tertinggi kasus ISPA yakni 74 ribu sekian, diikuti Sumatera Selatan 74 ribu, Kalimantan Barat 52 ribu lebih, Riau 31 ribu lebih, Kalimantan Tengah, 24 ribu lebih, dan Kalimantan Timur 23 ribu lebih.
“Data tersebut masih terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (14/10/2026).
Aji juga membenarkan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma.
“Jadi, bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan,” ujar dia.
Kemenkes menyatakan telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, dan distribusi logistik di wilayah terdampak. Hingga 12 Oktober, pemerintah juga melaporkan mobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta dukungan lebih dari 2,8 juta masker dari berbagai sumber distribusi pemerintah pusat dan daerah.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi+) Kementerian Kehutanan RI menunjukkan, luas lahan terbakar sepanjang 2026 telah mencapai lebih dari 202 ribu hektare.
Untuk titik panas (hotspot) berdasarkan catatan Kemenhut RI berstatus kepercayaan tinggi sekitar 244 hingga 13 Oktober pukul 21.00 WIB. Sementara Bloomberg Technoz melaporkan terdapat 1.085 titik panas berstatus kepercayaan tinggi hingga 12 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. *Berbagai sumber/AI/J.M.











