Kelas penulis dan jurnalis harus melahirkan karya dan ruang kolaborasi
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Kelas Penulis dan Jurnalis didorong tidak berhenti sebagai ruang belajar, berbagi teori dan ruang kolaborasi. Kegiatan tersebut diharapkan berkembang menjadi wadah produksi yang mampu melahirkan karya jurnalistik, tulisan, dan fotografi secara berkelanjutan.
Harapan itu disampaikan Dom Koten, perwakilan media Legio.id, yang mengapresiasi pelaksanaan kelas tersebut. Menurutnya, pertemuan antara penulis, jurnalis, dan fotografer memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami proses kreatif secara lebih utuh.
“Menurut saya, kegiatan seperti ini sangat positif karena kita tidak hanya berbicara tentang teori menulis, tetapi juga belajar bagaimana melihat persoalan, mengolahnya menjadi tulisan, dan memperkuatnya dengan fotografi. Ini menjadi bekal yang sangat penting bagi siapa pun yang ingin serius di dunia media,” ujar Dom Koten di Caffe Terserah ID, Minggu (4/10) sore.
Menurut Dom, gagasan membangun platform atau ruang kolaborasi bersama juga menjadi peluang yang perlu dikembangkan. Penulis, jurnalis, dan fotografer memiliki keahlian berbeda yang dapat disatukan untuk menghasilkan produk media yang lebih kuat.
“Yang paling menarik adalah ketika kelas ini tidak hanya menjadi tempat bertemu, tetapi berkembang menjadi ekosistem. Penulis membutuhkan fotografer, fotografer membutuhkan narasi, dan jurnalis membutuhkan keduanya. Dari situ bisa lahir karya yang lebih kuat dan memiliki nilai bagi masyarakat,” tuturnya.
Kelas tersebut menghadirkan Jurnalis AMSI Kalteng Hairil, fotografer profesional Hendri, serta penulis buku Kadafi. Ketiganya memberikan perspektif berbeda mengenai proses menghasilkan karya, mulai dari kemampuan membaca persoalan, mengolah informasi, hingga memperkuat tulisan melalui visual.
Ketua AMSI Kalteng, Sunrise Sinulingga, turut mendorong agar kegiatan tersebut berlanjut dan berkembang menjadi ruang kolaborasi. Ia membuka peluang pengembangan platform digital berupa website yang dapat menjadi wadah bersama bagi peserta.
“Kegiatannya terus berlanjut, bisa membuat website yang nanti bisa kolaborasi,” kata Sunrise.
Ketua PW GP Ansor Kalteng, Arjoni, juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap peserta serius mengikuti proses pembelajaran sehingga mampu membangun kembali semangat menulis dan menghasilkan karya.
Arjoni yang juga memiliki latar belakang di dunia jurnalistik menilai penguatan kapasitas generasi muda melalui kegiatan semacam ini penting untuk membangun SDM yang produktif.
Hairil menekankan pentingnya sikap kritis bagi seorang jurnalis. Menurutnya, jurnalis harus mampu merespons berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat, bukan hanya menjalankan aktivitas menulis secara teknis.
“Menjadi jurnalis harus kritis dalam merespons masalah di masyarakat,” tegas Hairil.
Sementara Kadafi menilai dunia kepenulisan membutuhkan komitmen karena tidak semua orang bersedia mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk memperdalam pengetahuan melalui tulisan.
“Menjadi penulis itu privilese karena hanya segelintir manusia yang mau menggelutinya. Ia rela mengorbankan waktu dan materi hanya untuk menjadi cerdas,” kata Kadafi.
Adapun Hendri menempatkan fotografi sebagai bagian penting dalam produksi sebuah karya. Menurutnya, kekuatan visual dapat membantu pembaca memahami sekaligus tertarik terhadap informasi yang disampaikan.
“Fotografi menjadi pendukung dalam setiap tulisan agar lebih menarik,” ujar Hendri. (AI/tim)











