Wisnus Kalteng Tembus 1 Juta Perjalanan, Okupansi Hotel Bintang Malah Turun
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah menunjukkan aktivitas wisatawan nusantara (wisnus) di provinsi setempat meningkat tajam secara tahunan, tetapi pertumbuhan itu belum mampu mengangkat kinerja hotel berbintang.
Jumlah perjalanan wisnus asal Kalimantan Tengah pada Agustus 2026 mencapai 1.011.639 perjalanan. Angka ini memang turun 6,08 persen dibandingkan Juli 2026, tetapi melonjak 25,22 persen dibandingkan Agustus 2025.
Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng M Taufiqurrahman mengatakan pola serupa terlihat pada perjalanan wisnus yang masuk ke provinsi ini. Di mana jumlah perjalanan wisatawan nusantara periode Agustus 2026 yang masuk dan keluar menunjukkan penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, namun meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.
“Perjalanan wisnus dengan tujuan Kalimantan Tengah mencapai 1.045.880 perjalanan pada Agustus 2026. Angka tersebut turun 4,45 persen dibandingkan Juli, tetapi masih tumbuh 17,47 persen secara tahunan,” ujarnya.
Palangka Raya menjadi magnet utama. Kota ini mencatat 265.707 perjalanan wisnus atau 25,41 persen dari total perjalanan menuju Kalteng. Berikutnya Kabupaten Kapuas sebanyak 120.426 perjalanan dan Kotawaringin Timur 111.473 perjalanan.
Namun, tingginya mobilitas tersebut berbanding terbalik dengan kinerja hotel berbintang. Di mana TPK hotel berbintang Kalteng pada Agustus hanya 45,77 persen, turun 2,74 poin dibandingkan Juli. Secara tahunan, TPK hotel berbintang bahkan merosot 3,46 poin dibandingkan Agustus 2025.
Penurunan terjadi pada hampir seluruh kelas hotel. TPK hotel bintang dua turun 9,30 poin secara tahunan, bintang tiga turun 7,59 poin, dan bintang satu turun 2,08 poin.
Hanya hotel bintang empat dan lima yang mampu mencatat pertumbuhan, dengan kenaikan TPK 3,51 poin dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Di sisi lain, hotel nonbintang dan akomodasi lainnya justru menunjukkan arah berbeda. TPK kelompok ini mencapai 22,92 persen, naik 0,82 poin secara tahunan.
Data tersebut memperlihatkan satu persoalan penting: bertambahnya perjalanan wisatawan belum otomatis berarti bertambahnya tamu hotel berbintang.
Wisnus bisa melakukan perjalanan pulang-pergi, tinggal relatif singkat, memilih penginapan nonbintang, atau menggunakan akomodasi alternatif. Karena itu, tingginya angka perjalanan belum sepenuhnya menjadi keuntungan bagi industri hotel.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi sektor pariwisata Kalteng. Pemerintah dan pelaku usaha tidak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan. Tantangan berikutnya adalah membuat wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di daerah tujuan.
Dengan kata lain, Kalteng sudah berhasil mendatangkan mobilitas wisatawan. Yang belum sepenuhnya berhasil adalah mengubah mobilitas tersebut menjadi okupansi hotel dan aktivitas ekonomi pariwisata yang lebih besar.
*Rilis BPS/AI/J.M.











