67 Bencana dalam Sebulan, Seberapa Siap Sumut Hadapi Ancaman Bencana Berikutnya?
MEDAN, LEGIO.ID — Sumatera Utara mencatat 67 kejadian bencana sepanjang September 2026. Banjir menjadi kejadian paling dominan, disusul cuaca ekstrem, tanah longsor, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data BPBD Sumatera Utara menunjukkan 67 kejadian tersebut tersebar di 24 kabupaten/kota. Banjir tercatat 25 kejadian, cuaca ekstrem 19 kejadian, tanah longsor 13 kejadian, dan karhutla sembilan kejadian. Satu kejadian lainnya masuk kategori bencana nonalam.
Dampaknya tidak kecil. BPBD mencatat lima orang meninggal dunia, empat orang luka-luka, 352 orang mengungsi dan 28.162 jiwa terdampak. Selain itu, sebanyak 181 rumah rusak dan 7.150 rumah terendam. Empat jembatan juga dilaporkan rusak.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana di Sumut tidak hanya datang dari satu jenis kejadian. Dalam periode yang sama, sembilan karhutla terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan luas lahan terdampak mencapai 23,72 hektare.
Persoalannya, memasuki Oktober, ancaman belum sepenuhnya mereda. BMKG dalam prakiraan periode 9–15 Oktober 2026 masih memasukkan Sumatera Utara sebagai wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Di sisi lain, BMKG memprediksi sebagian wilayah Sumut pada Oktober mengalami curah hujan kategori menengah, sementara sejumlah daerah seperti Nias, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, Binjai dan Mandailing Natal diprediksi mendapat curah hujan kategori tinggi.
Kondisi tersebut membuat kesiapan pemerintah daerah menjadi penting. Sebab, ancaman bencana yang dihadapi Sumut bersifat beragam, mulai dari banjir dan longsor hingga karhutla.
Data BPBD juga menunjukkan persoalan karhutla bukan hanya terjadi pada September. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 52 kejadian karhutla di 14 kabupaten/kota dengan luas lahan terdampak 308,87 hektare.
Sementara itu, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Untuk Sumatera bagian utara, awal musim hujan diperkirakan datang lebih dahulu dibanding sejumlah wilayah lainnya, meski waktunya berbeda antarwilayah. BMKG juga menyebut fenomena El Niño sangat kuat masih berpengaruh hingga awal 2027.
Dengan catatan 67 bencana dalam satu bulan, pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa banyak bencana yang telah terjadi, tetapi seberapa siap pemerintah daerah menghadapi kejadian berikutnya.
Kesiapan tersebut mencakup kecepatan respons, ketersediaan personel dan peralatan, sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, hingga kemampuan pemerintah memastikan warga terdampak mendapatkan penanganan dan pemulihan.
Bagi pemerintah daerah, data September menjadi salah satu indikator penting untuk mengevaluasi wilayah yang berulang kali terdampak sekaligus memperkuat mitigasi sebelum bencana berikutnya terjadi (Ai/antara/tim)











