Karhutla mengancam warga Kalteng, 122 titik panas terdeteksi
JAKARTA, LEGIO.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) perlu diwaspadai menyusul peningkatan titik panas menjadi 122 titik hingga Jumat (9/10/2026) pukul 21.00 WIB. Jumlah tersebut tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla yang dipantau Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Bagi masyarakat, peningkatan titik panas bukan sekadar angka pemantauan satelit. Karhutla berpotensi memperburuk kualitas udara, mengganggu aktivitas sehari-hari, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta menghambat kegiatan belajar dan pekerjaan ketika kabut asap menyelimuti permukiman.
Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut menunjukkan, titik panas di Kalteng meningkat dari 86 menjadi 122 titik. Secara nasional, terdeteksi 437 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, naik dari 387 titik pada Kamis (8/10/2026).
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan bersama, terutama di wilayah yang berdekatan dengan titik api dan kawasan gambut. Meski demikian, titik panas tidak otomatis menunjukkan kebakaran aktif karena setiap indikasi perlu diperiksa langsung oleh petugas.
“Kawasan gambut menjadi salah satu perhatian utama karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah. Proses pembasahan dan pendinginan perlu dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan bara tidak kembali memicu kebakaran,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, Sabtu (10/10/2026).
Dampak karhutla dapat meluas ketika asap mencapai kawasan permukiman. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus apabila kualitas udara memburuk.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat udara berasap, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah, dan mengikuti informasi kualitas udara dari instansi berwenang. Sekolah, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah juga perlu menyesuaikan langkah perlindungan berdasarkan kondisi setempat.
Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan serius setelah terpapar asap sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Kemenhut bersama Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat melakukan pemantauan serta penanganan karhutla melalui patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, dan operasi udara.
Pemerintah menyiagakan 61 armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 44 unit untuk pemadaman melalui water bombing. Langkah ini ditujukan untuk mendukung pengendalian kebakaran, terutama ketika api sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kawasan gambut memerlukan perhatian khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan menyisakan bara meskipun kobaran tidak terlihat. Karena itu, proses pemadaman harus disertai pendinginan dan pemeriksaan lanjutan agar api tidak kembali menyala.
Karhutla juga mengancam habitat satwa liar. Kemenhut melaporkan 272 individu satwa di Kalimantan telah mendapatkan penanganan melalui penyelamatan, evakuasi, translokasi, rehabilitasi, atau penggiringan menuju habitat yang lebih aman. Sebanyak 48 individu di antaranya berasal dari Kalteng.
Warga yang menemukan satwa liar terluka atau memasuki permukiman akibat gangguan habitat diminta tidak menangani atau menangkapnya sendiri. Pelaporan kepada BKSDA atau petugas kehutanan diperlukan agar satwa dapat ditangani secara aman.
Pencegahan kebakaran membutuhkan keterlibatan masyarakat. Warga dan pelaku usaha diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan api dan asap kepada petugas setempat. (*) (AI/berbagai sumber)











