20.690 Hektare Lahan Riau Terbakar, Benarkah Karhutla Sudah Terkendali?
PEKANBARU, LEGIO.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau mulai memasuki fase pengendalian. Namun, luas lahan yang telah terbakar sepanjang 2026 sudah mencapai 20.690 hektare dan tersebar di 12 kabupaten/kota.
Kepala Pelaksana BPBD Riau Edy Afrizal mengatakan data tersebut merupakan akumulasi hingga 11 Oktober 2026. Bengkalis menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar mencapai 8.573 hektare, disusul Pelalawan 6.710 hektare, Indragiri Hulu 1.674 hektare dan Indragiri Hilir 1.407 hektare.
“Sampai 11 Oktober kemarin luas karhutla 20.690. Ini tersebar di 12 kabupaten dan kota di Riau,” kata Edy, Senin (12/10/2026).
BPBD menyebut saat ini tinggal satu titik karhutla yang terpantau di Indragiri Hulu. Api di lokasi tersebut telah dipadamkan dan petugas masih melakukan pendinginan.
Sebelumnya, data Pemprov Riau mencatat luas lahan terbakar mencapai 20.597,23 hektare. Selain Bengkalis dan Pelalawan, luasan terbesar tercatat di Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Dumai. Perbedaan angka tersebut terjadi karena pembaruan data hingga periode 11 Oktober.
Upaya penanganan karhutla juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sepanjang 30 Juli hingga 25 September 2026, sebanyak 80 ton garam disemai untuk memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah Riau. Pemerintah menyebut hujan yang turun selama pelaksanaan OMC turut membantu proses pemadaman.
Meski titik api kini dilaporkan nihil atau tersisa dalam tahap pendinginan, ancaman karhutla belum sepenuhnya dapat dianggap selesai. BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa kondisi musim kemarau yang dipengaruhi El Niño masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla hingga beberapa pekan ke depan. Puncak musim kemarau diprakirakan berlangsung hingga akhir Oktober 2026.
Kondisi udara di Pekanbaru pada Senin (12/10) tercatat 29,2 µg/m³ PM2.5 atau kategori sedang berdasarkan pemantauan BMKG Riau. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara telah jauh membaik dibanding periode ketika kabut asap mencapai level buruk, meski kelompok sensitif tetap disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan.
Di sisi lain, dampak karhutla terhadap kesehatan masih menjadi perhatian. Di Kabupaten Kuantan Singingi, misalnya, pemerintah daerah pada 7 Oktober mencatat 1.789 kasus ISPA ketika kualitas udara di wilayah pemantauan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Dengan lebih dari 20 ribu hektare lahan terbakar sepanjang tahun, persoalan Riau kini bukan hanya bagaimana memadamkan api yang tersisa, tetapi bagaimana memastikan lahan yang telah terbakar tidak kembali menjadi sumber kebakaran baru ketika kondisi kembali kering.
Bagi pemerintah daerah, menurunnya titik api menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan, terutama di wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Status terkendali seharusnya tidak dimaknai sebagai alasan untuk menurunkan kewaspadaan, terlebih BMKG masih memproyeksikan risiko karhutla hingga akhir Oktober. ( Ai/BMKG/Tim)











