Sleepmaxxing dan Cold Plunge Digandrungi Gen Z, Benarkah Efektif untuk Kesehatan?
JAKARTA, LEGIO.ID – Di kalangan Generasi Z (Gen Z), tren leepmaxxing dan cold plunge menarik perhatian karena menjanjikan tubuh lebih bugar, pikiran lebih segar, hingga kualitas tidur yang lebih baik. Namun, seberapa kuat bukti ilmiah di balik tren tersebut?.
Sleepmaxxing merupakan upaya mengoptimalkan kualitas tidur melalui kebiasaan dan berbagai perangkat pendukung, seperti mengatur jadwal tidur, meredupkan lampu kamar, menggunakan aplikasi pelacak tidur, hingga mencoba suplemen tertentu.
Sementara cold plunge, merujuk pada praktik merendam tubuh dalam air dingin yang populer di kalangan penggemar kebugaran dan gaya hidup sehat.
Survei American Academy of Sleep Medicine (AASM) pada 2025 menunjukkan 73 persen responden dewasa Amerika Serikat berusia 18–24 tahun, pernah mencoba setidaknya satu tren tidur yang populer di media sosial. Sebanyak 13 persen kelompok usia tersebut mengaku pernah mencoba sleepmaxxing.
Data ini menggambarkan meningkatnya perhatian terhadap tidur, meskipun tidak dapat langsung mewakili seluruh Gen Z di Indonesia.
Pakar tidur dari Harvard Medical School, Eric Zhou, PhD, mengingatkan bahwa sleepmaxxing sebagai satu paket tren belum terbukti secara ilmiah.
Dalam artikel Harvard Health Publishing pada Maret 2025, ia menjelaskan bahwa beberapa kebiasaan yang dipromosikan memang memiliki dasar ilmiah, tetapi sebagian lainnya belum didukung bukti yang memadai.
“Mengejar tidur sempurna justru dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu,” kata Eric Zhou mengingatkan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun justru merekomendasikan remaja berusia 13–18 tahun tidur selama delapan hingga sepuluh jam setiap malam. Kurang tidur dapat mengganggu konsentrasi, kesehatan mental, dan kemampuan belajar.
Karena itu, kebiasaan sederhana seperti membatasi penggunaan gawai menjelang tidur dan menjaga waktu tidur teratur lebih layak diprioritaskan daripada mengikuti semua kiat viral.
Tren lain yang ikut menarik perhatian adalah cold plunge, yakni merendam tubuh dalam air dingin dengan harapan membantu pemulihan setelah olahraga, meningkatkan kewaspadaan, atau memperbaiki suasana hati.
Sejumlah penelitian memang menemukan potensi manfaat, terutama untuk mengurangi nyeri otot setelah aktivitas fisik. Namun, klaim bahwa praktik ini dapat meningkatkan imunitas atau memberikan manfaat kesehatan jangka panjang masih membutuhkan bukti lebih kuat.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada Januari 2025 menganalisis 11 penelitian dengan total 3.177 peserta. Hasilnya menunjukkan kemungkinan manfaat tertentu terhadap stres dan kualitas tidur, tetapi efeknya berbeda menurut waktu pengukuran.
Peneliti juga tidak menemukan perubahan signifikan pada sejumlah indikator fungsi kekebalan tubuh segera setelah paparan air dingin. Mereka menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan metode yang lebih kuat.
Dokter kedokteran olahraga Dominic King dari Cleveland Clinic menegaskan bahwa terapi air dingin tidak cocok untuk semua orang. “Cold plunges are an option to consider in certain situations, but they’re not essential to a training program,” ujarnya. Yang berarti terapi ini dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu, tetapi bukan keharusan dalam program latihan.
Ia juga mengingatkan bahwa paparan dingin dapat memicu napas cepat, meningkatkan tekanan darah, dan menambah beban kerja jantung.
Risiko tersebut membuat tren cold plunge tidak sepatutnya dianggap sebagai tantangan yang harus diikuti demi terlihat bugar di media sosial. Paparan air sangat dingin secara mendadak dapat memicu respons kejut dingin, gangguan pernapasan, dan masalah kardiovaskular.
Risiko hipotermia juga meningkat jika tubuh terlalu lama terpapar dingin. Remaja tidak sebaiknya mencoba perendaman ekstrem tanpa pengawasan dan penilaian keselamatan yang memadai.
Pada akhirnya, sleepmaxxing dan cold plunge memperlihatkan meningkatnya minat generasi muda terhadap kesehatan dan pemulihan tubuh. Namun, popularitas di media sosial tidak otomatis membuktikan efektivitas.
Kebiasaan tidur teratur, aktivitas fisik yang sesuai, pola makan seimbang, dan pengelolaan stres tetap menjadi fondasi kesehatan yang lebih penting daripada mengejar rutinitas yang terlihat sempurna.
Para ahli pun mengingatkan bahwa tujuan menjaga kesehatan bukanlah mengumpulkan sebanyak mungkin ritual kebugaran, melainkan memilih kebiasaan yang aman, realistis, dan sesuai kebutuhan.
Tren dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kesehatan, tetapi keputusan terkait tubuh sebaiknya tetap berpijak pada bukti ilmiah, bukan sekadar jumlah penayangan atau rekomendasi influencer.
*Berbagai sumber/AI/E1.











