Seminar bela negara KNPI Kaltara, Niko Ruru ajak Pemuda bersama menjaga perbatasan
TARAKAN, LEGIO.ID – Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Utara (Kaltara), Niko Ruru, S.P., mengingatkan bahwa persoalan di wilayah perbatasan tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Keterlibatan pemuda dinilai menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan wilayah, menjaga persatuan, dan menghadapi berbagai ancaman sosial maupun keamanan.
Pesan itu disampaikan Niko dalam sambutannya pada Seminar Bela Negara yang diselenggarakan DPD KNPI Kaltara di Meeting Room Hotel Galaxy Tarakan, Sabtu (31/10/2026).
Niko menyoroti posisi strategis Kaltara yang memiliki garis perbatasan sekitar 1.037 kilometer dengan wilayah Malaysia. Menurutnya, kawasan perbatasan menghadapi persoalan kompleks, mulai dari ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap negara tetangga, kerentanan politik, hingga ancaman peredaran narkotika dan penyelundupan.
Ia mencontohkan kondisi masyarakat Sebatik yang masih memiliki ketergantungan ekonomi terhadap Malaysia. Hasil bumi masyarakat dipasarkan ke negara tetangga, sementara sejumlah kebutuhan hidup juga dipenuhi melalui produk dari sana.
Kondisi tersebut, menurut Niko, memperlihatkan bahwa persoalan perbatasan bukan semata-mata menyangkut keamanan, tetapi juga berkaitan dengan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Persoalan yang ada di Kalimantan Utara tidak akan mampu ditangani sendiri oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, termasuk TNI, tanpa keterlibatan kita, terutama kaum muda yang ada di perbatasan,” tegasnya.
Selain persoalan ekonomi, Niko mengingatkan adanya ancaman keamanan yang perlu diwaspadai. Ia menyebut peredaran minuman keras dan narkotika, dugaan penyelundupan senjata, serta potensi jalur masuk bagi aktivitas terorisme sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Karena itu, ia menilai pemuda harus mengambil peran lebih besar dalam menjaga wilayah perbatasan. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus tampil sebagai bagian dari kekuatan masyarakat yang menjaga persatuan dan mendorong pembangunan.
“Pemuda Kalimantan Utara bukan hanya penonton, melainkan garda terdepan menjaga perbatasan, menjaga persatuan, dan menjadi motor penggerak pembangunan di wilayah perbatasan,” demikian penekanan Niko dalam sambutannya.
Niko juga mengajak generasi muda memaknai bela negara secara lebih luas. Di tengah globalisasi, perkembangan teknologi, dan derasnya arus informasi, bela negara tidak lagi terbatas pada perjuangan mengangkat senjata di medan perang.
Menurutnya, kecintaan terhadap tanah air, kesetiaan pada Pancasila, menjaga ketahanan sosial, menangkal berita bohong, melawan radikalisme, serta merawat toleransi merupakan wujud nyata bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan, ketahanan nasional turut ditentukan oleh kuatnya ketahanan sosial dan budaya di daerah perbatasan. Karena itu, pemuda Kaltara perlu memiliki kepekaan untuk menjaga kerukunan antarumat beragama dan antarsuku.
Niko turut mendorong organisasi kepemudaan, Gerakan Pramuka, Forum Bela Negara, dan berbagai elemen masyarakat memperkuat kerja sama. Menurutnya, kolaborasi diperlukan agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diwujudkan melalui program dan tindakan nyata.
“Melalui forum ini, kita berharap pemahaman bela negara dapat terinternalisasi dengan baik dalam jiwa setiap peserta. Kita juga perlu melakukan aksi nyata melalui gagasan, program kolaboratif, dan kerja bersama seluruh pihak,” ujarnya.
Ia berharap seminar tersebut menjadi ruang untuk membangun kesadaran dan kapasitas pemuda dalam membaca persoalan daerah, khususnya tantangan di kawasan perbatasan. Dengan keterlibatan aktif generasi muda, Kaltara diharapkan mampu menjaga persatuan sekaligus memperkuat pembangunan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Red/OF











