Dari Kimpulbrown hingga Mango Sticky Kimpul, Pangan Lokal Kini Naik Kelas
JAKARTA, LEGIO.ID — Siapa sangka kimpul bisa masuk ke menu yang biasa berseliweran di FYP? Umbi yang dulu identik dengan makanan tradisional itu kini diolah menjadi kimpulbrown, mango sticky kimpul, mashed kimpul, dumpling, arancini hingga kimbab. Kreasi tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan ikut menarik perhatian Gen Z.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: pangan lokal tidak harus tampil kuno untuk kembali populer. Dengan resep dan penyajian yang lebih kreatif, kimpul bisa masuk ke selera generasi muda. Kementerian Pariwisata bahkan melihat viralnya kimpul sebagai contoh bagaimana media sosial dapat mengangkat kembali kekayaan gastronomi Indonesia.
Bagi bisnis, tren ini membuka peluang baru. Kimpul bukan hanya bisa dijual sebagai umbi, tetapi dapat diubah menjadi produk siap makan, camilan, tepung, kue hingga menu kafe. Artinya, nilai ekonominya dapat bergerak dari bahan mentah ke produk olahan yang lebih kreatif.
Dari sisi gizi, kimpul mengandung karbohidrat dan serat. Data TKPI 2018 yang dikutip RRI mencatat 100 gram kimpul segar mengandung 145 kilokalori, 34,2 gram karbohidrat, 1,2 gram protein dan 1,5 gram serat. Namun, kimpul harus dimasak hingga matang karena mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi jika pengolahannya tidak tepat.
Yang paling menarik, Gen Z ternyata sedang menemukan kembali sesuatu yang sudah lama ada di Indonesia. Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menilai kimpul menjadi contoh bagaimana pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat bisa kembali memiliki daya tarik ketika dikemas secara kreatif.
Dari umbi sederhana menjadi makanan kekinian, kimpul membuktikan: kadang yang sedang dicari Gen Z bukan sesuatu yang baru—melainkan sesuatu yang lama, dikemas dengan cara yang baru.
Sumber : Ai/antaranews/Perpustakaan dan Arsip UGM, 2026/tim











