Kabut asap ancam kesehatan warga, 10.240 kasus ISPA tercatat di Palangka Raya
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga membebani kesehatan masyarakat. Di Kota Palangka Raya, sebanyak 10.240 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat sejak Juni hingga awal Oktober 2026, ketika kabut asap menyelimuti wilayah tersebut.
Paparan asap yang berkepanjangan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pernapasan, terutama pada bayi, balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki penyakit penyerta. Keluhan yang muncul antara lain batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.
Dampak tersebut terlihat di Puskesmas Bukit Hindu. Hingga 15 Oktober 2026, fasilitas kesehatan itu mencatat 1.121 kasus ISPA sejak Agustus, termasuk 105 kasus pada balita dan 35 kasus pada bayi. Artinya, terdapat 140 kasus pada kelompok bayi dan balita yang membutuhkan perhatian khusus di tengah kondisi udara yang memburuk.
Salah seorang orang tua pasien mengungkapkan anaknya mengalami batuk berkepanjangan.
“Anak saya sudah batuk-batuk selama sepuluh hari ini, apalagi di luar asap makin pekat,” kata Frency, orang tua seorang balita yang menjalani pemeriksaan medis.
Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan karhutla bukan semata persoalan memadamkan api. Kabut asap yang terus berulang juga menuntut perlindungan kesehatan warga, terutama kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan.
Pemerintah kota dan fasilitas kesehatan perlu memastikan layanan pemeriksaan, penanganan pasien, serta informasi pencegahan dapat dijangkau masyarakat. Warga juga diimbau membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan pernapasan.
Di sisi lain, upaya perlindungan kesehatan harus berjalan beriringan dengan pemadaman dan pencegahan karhutla. Selama sumber asap belum terkendali, masyarakat tetap menghadapi risiko paparan, sementara fasilitas kesehatan harus bersiap menangani kebutuhan layanan yang meningkat. (*) (AI/berbagai sumber)











