Karhutla di Kalteng Meluas, Gubernur Rangkul Tokoh Lintas Agama
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengajak tokoh lintas agama memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui pertemuan dan doa bersama di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Jumat (23/10/2026).
Pertemuan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Edy Pratowo dan Sekretaris Daerah Kalteng Linae Victoria Aden itu menjadi ruang dialog untuk memperkuat persatuan, kepedulian terhadap lingkungan, dan koordinasi dalam menghadapi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
“Hanya dengan kebersamaan semua elemen masyarakat, termasuk para tokoh agama, kita mampu melewati masa-masa sulit, khususnya menghadapi karhutla saat ini,” kata Agustiar sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Pemprov Kalteng.
Selain mengajak masyarakat menjaga kerukunan, Agustiar berharap tokoh agama turut menyampaikan pesan yang menyejukkan, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta mendorong warga bekerja sama dalam menghadapi karhutla.
“Dukungan sosial ini harapannya dapat melengkapi upaya penanganan yang dilakukan petugas di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga terus mengandalkan pemadaman darat dan udara serta penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran karhutla.
Berdasarkan laporan BPB-PK per 21 Oktober, sebanyak 16.387 personel gabungan disiagakan, didukung tujuh helikopter pemadam dan satu pesawat untuk operasi modifikasi cuaca atau patroli. Sebanyak 53 kasus dugaan pelanggaran karhutla dilaporkan telah diproses aparat penegak hukum.
Data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah mencatat 85 kejadian karhutla dengan luas area terbakar 98,68 hektare dalam laporan harian hingga Rabu (21/10) pukul 18.00 WIB. Pada periode yang sama, terdeteksi 2.467 titik panas.
Dampak karhutla juga menjangkau sektor kesehatan dan pendidikan. BPB-PK Kalteng melaporkan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana mencatat 7.044 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.163 kasus diare hingga minggu ketiga Oktober 2026.
Sebanyak 223 sekolah di kabupaten dan kota juga mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi pembelajaran jarak jauh, sedangkan pemerintah provinsi menyiagakan 169 lokasi Rumah Oksigen.
Sementara itu, Kementerian Kehutanan melaporkan berdasarkan pemantauan satelit hingga 19 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, terdapat 49 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalteng. Angka itu merupakan data pada waktu pengamatan yang berbeda dari laporan harian BPB-PK, sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Dalam pertemuan itu, para tokoh agama menyambut baik upaya membangun komunikasi lintas agama dan menyatakan kesiapan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Tengah Khairil Anwar menilai dialog dan kebersamaan penting untuk menyatukan langkah menghadapi kondisi yang terjadi di daerah tersebut.
Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Kalimantan Tengah, Pdt Ayang, juga menekankan pentingnya menjaga falsafah Huma Betang yang menjunjung tinggi gotong royong, toleransi, dan persatuan.
Sementara itu, perwakilan Keuskupan Katolik Cornelius Fallo mengingatkan bahwa lingkungan merupakan rumah bersama yang harus dijaga dan dilindungi.
Melalui pertemuan tersebut, pemerintah daerah berharap sinergi dengan tokoh lintas agama dan masyarakat semakin kuat, baik untuk menjaga persaudaraan berdasarkan falsafah Huma Betang maupun mendorong pencegahan kebakaran. Penanganan karhutla tetap membutuhkan langkah nyata berupa pencegahan pembakaran lahan, pelaporan dini titik api, dan respons cepat terhadap kebakaran yang terverifikasi. *Berbagai Sumber/AI/E1.











