Satu Abad Karya MSF di Kalimantan, Jejak Misi Diabadikan di Barong Tongkok
KUTAI BARAT.LEGIO.ID — Seratus tahun perjalanan karya Misionaris Keluarga Kudus atau Missionarii a Sacra Familia (MSF) di Kalimantan ditandai dengan peresmian Museum Pater Berthier Servus Salutis di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Museum tersebut diresmikan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin sebagai bagian dari rangkaian perayaan 100 tahun karya misi MSF di Kalimantan-Indonesia. Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyebut museum itu menjadi bagian dari upaya melestarikan sejarah perjalanan misi dan kontribusi para misionaris bagi masyarakat Kalimantan.
Superior Jenderal MSF Pastor Agustinus Purnama mengatakan perjalanan satu abad tersebut merupakan hasil pengabdian panjang yang diawali kedatangan tiga misionaris dari Belanda pada 1926. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Secara historis, perjalanan MSF di Kalimantan memiliki titik penting di Laham. Pada 27 Februari 1926, Pater Frans Groot, Pater J. van der Linden dan Bruder Egidius Stoffels tiba di Laham, di pedalaman Kalimantan Timur. Ketiganya melanjutkan karya misi yang sebelumnya telah dijalankan para imam Kapusin selama 19 tahun.
Sumber resmi MSF mencatat, kongregasi tersebut telah mengambil alih sekitar tiga perempat karya misi OFMCap di Kalimantan pada 12 Januari 1925. Karena itu, 1926 merupakan tahun yang menandai awal karya MSF di Indonesia, bukan awal seluruh sejarah misi Katolik di Kalimantan.
Dari Laham, karya MSF kemudian berkembang ke sejumlah wilayah mengikuti jalur Sungai Mahakam. Tering mulai menjadi stasi pada 1928 dan pusat misi dipindahkan dari Laham ke Tering pada 1932. Perkembangan berikutnya menjangkau Banjarmasin pada 1930, Balikpapan 1931, Samarinda 1933, Tarakan dan Semblimbing 1934, Long Pahangai dan Tiong Ohang 1936, serta Mamahak Besar dan Barong Tongkok pada 1937.
Perjalanan tersebut kemudian meluas. Pada 13 Oktober 1971, MSF di Kalimantan menjadi sebuah provinsi. Sumber resmi MSF mencatat, pada 2021 karya MSF telah berlangsung di empat keuskupan di Kalimantan, yakni Banjarmasin, Samarinda, Palangka Raya dan Tanjung Selor.
Momentum satu abad tahun ini juga membawa keluarga besar MSF kembali ke lokasi awal sejarahnya. Pada 27–28 Februari 2026, para anggota MSF mengunjungi Laham dan Tering dalam rangka napak tilas. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan Misa Syukur di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok pada 1 Maret 2026.
Bagi Kutai Barat, perayaan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan panjang antara karya MSF dan perkembangan masyarakat setempat. Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyebut kontribusi MSF tidak hanya dalam pelayanan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan masyarakat.
Peresmian museum di Barong Tongkok menjadi penanda bahwa perjalanan satu abad itu kini tidak hanya dikenang melalui perayaan, tetapi juga melalui upaya menyimpan sejarahnya. Museum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengenal perjalanan para misionaris sekaligus nilai-nilai pelayanan yang berkembang bersama masyarakat Kalimantan selama satu abad.
Dengan demikian, Laham menjadi titik awal karya MSF di Kalimantan pada 1926, Tering menjadi salah satu pusat penting perkembangannya, sementara Barong Tongkok kini menjadi salah satu tempat untuk mengenang perjalanan satu abad tersebut. Perjalanan itu menunjukkan bahwa sejarah MSF di Kalimantan tidak berdiri pada satu wilayah, melainkan terbentuk melalui jaringan karya yang berkembang dari pedalaman hingga berbagai pusat masyarakat di Kalimantan.( Ai/MISAFA/Tim)











