7.000 ayam mati, Peternak rugi Rp200 juta, GM PLN Kalselteng dituntut mundur
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID – Krisis listrik di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali memicu aksi protes. Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap menggelar unjuk rasa di depan Kantor UP3 PLN Palangka Raya, Jumat (30/10/2026).
Dalam aksi jilid VII tersebut, massa membawa 4.000 bangkai ayam sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi.
Massa mendesak PLN menghentikan pemadaman dan mencopot General Manager PT PLN (Persero) UIW Kalselteng beserta jajaran manajer di Kalimantan Tengah.
Koordinator lapangan aksi menegaskan, pencopotan pimpinan PLN menjadi salah satu tuntutan utama mereka. Massa menilai manajemen PLN belum mampu mengatasi persoalan pasokan listrik yang terus berlarut.
Dampak pemadaman juga dirasakan langsung oleh peternak ayam. Salah satunya Satrio yang mengaku kehilangan 7.000 ekor ayam berusia 16 hari akibat tegangan listrik tidak stabil.
Gangguan listrik tersebut merusak genset cadangan di kandangnya. Akibatnya, pasokan udara terhenti dan ribuan ayam mati.
Satrio memperkirakan kerugiannya mencapai Rp200 juta. Jumlah tersebut berasal dari biaya bibit ayam, pakan, dan operasional peternakan.
“Kalau kerugian materiel ini sekitar Rp200 juta karena 7.000 ekor ayam saya mati,” ungkap Satrio.
Ia menyebut kejadian serupa pernah dialaminya. Sebelumnya, sekitar 5.000 ekor ayam miliknya juga mati akibat persoalan kelistrikan.
Selain menuntut pencopotan pimpinan PLN, massa meminta perusahaan memberikan kompensasi atas kematian ternak dan kerusakan peralatan elektronik.
Pemadaman listrik yang terus berulang dinilai semakin merugikan masyarakat, terutama pelaku usaha yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Aksi tersebut kembali menempatkan PLN di bawah tekanan. Massa menuntut penyelesaian krisis listrik sekaligus pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami masyarakat dan pelaku usaha di Kalimantan Tengah. (*) (AI/berbagai sumber)











