Hujan Datang, Karhutla Belum Padam: Kalteng Kembali Catat 17 Hotspot, Papua Selatan Masih Waspada
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Hujan mulai membasahi sejumlah wilayah Kalimantan pada akhir Oktober, tetapi datangnya hujan belum serta-merta mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan Kalimantan Tengah kembali mencatat 17 hotspot berkepercayaan tinggi dan operasi pemadaman masih berlangsung di sejumlah kawasan gambut.
Data terbaru Kementerian Kehutanan melalui Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) menunjukkan, pada pemantauan 29 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB terdapat 154 hotspot high confidence secara nasional, naik dari 118 titik sehari sebelumnya.
Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, sebanyak 18 hotspot terdeteksi, yakni 17 titik di Kalimantan Tengah dan satu titik di Sumatera Selatan. Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan dan Riau tercatat nihil hotspot high confidence.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa angka hotspot tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran.
“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar,” demikian penjelasan Kementerian Kehutanan dalam laporan pemantauan 30 Oktober 2026. Seluruh indikasi tersebut tetap harus diverifikasi melalui patroli dan groundcheck.
Di Kalteng, persoalan justru belum berhenti pada angka satelit. Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan pada 29 Oktober menyebut operasi masih berlangsung di KHDTK Tumbang Nusa, Pulang Pisau, dengan kegiatan pembasahan lahan, patroli dan monitoring.
Di Sakakajang dan Tanjung Taruna, petugas masih menemukan banyak kepulan asap pada lahan gambut sehingga pemadaman lanjutan diperlukan.
Operasi juga berlangsung di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, khususnya Sei Sekonyer–Tanjung Harapan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kawasan tersebut memiliki lahan gambut dengan tipe kebakaran bawah dan bara disebut belum sepenuhnya padam.
Kondisi tersebut menunjukkan satu persoalan penting dalam penanganan karhutla di lahan gambut: turunnya hujan atau nihilnya hotspot pada satu waktu belum otomatis berarti ancaman kebakaran berakhir.
Hal itu terlihat sehari sebelumnya. Pada pemantauan 28 Oktober, Kementerian Kehutanan mencatat 118 hotspot high confidence, dengan konsentrasi terbesar berada di Papua Selatan sebanyak 84 titik, disusul Kalimantan Timur 24 titik, Sulawesi Selatan lima titik, Sulawesi Tengah empat titik dan Sulawesi Barat satu titik.
Papua Selatan bahkan masih berada dalam status tanggap darurat karhutla hingga 28 November 2026, menurut laporan Posko Kementerian Kehutanan.
Sementara itu, BMKG melihat peluang hujan mulai meningkat pada penghujung Oktober. Untuk periode 30 Oktober–2 November, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
Kalimantan Barat bahkan masuk kategori Siaga untuk potensi hujan lebat.
Namun BMKG mengingatkan bahwa kondisi atmosfer Indonesia masih dipengaruhi El Niño yang sangat kuat bersamaan dengan IOD positif, yang menjadi salah satu faktor pendukung kondisi kering di sejumlah wilayah.
Dalam periode 22–25 Oktober, BMKG mencatat curah hujan masih terbatas di sejumlah wilayah, sementara suhu maksimum mencapai 38°C atau lebih di beberapa daerah seperti Lampung, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Pada periode 10 hari terakhir yang dianalisis BMKG hingga 25 Oktober, Kalimantan mencatat 4.098 hotspot high confidence, sedangkan Papua Selatan mencapai 879 titik dan Sumatera Selatan 784 titik. Citra satelit juga masih menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena hotspot merupakan indikator dari satelit, bukan ukuran langsung luas kebakaran.
Yang menjadi persoalan justru ketika hujan hanya membasahi permukaan, sementara bara masih bertahan di bawah tanah gambut.
Kementerian Kehutanan menyebut kondisi di sejumlah lokasi memang membutuhkan pembasahan, penyisiran bara, mopping up dan pendinginan sampai kawasan benar-benar dinyatakan aman. Operasi udara pun masih disiagakan, dengan 61 armada yang terdiri dari 24 pesawat untuk patroli/CASA dan operasi modifikasi cuaca serta 37 helikopter untuk water bombing.
Dengan demikian, hujan pada akhir Oktober menjadi peluang penting untuk menekan karhutla, tetapi bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan.
Bagi Kalteng, 17 hotspot high confidence pada pemantauan terbaru menjadi pengingat bahwa persoalan belum selesai. Apalagi laporan lapangan masih menemukan asap dan bara di sejumlah kawasan gambut.
Sementara di luar Kalimantan, Papua Selatan kini menjadi salah satu wilayah yang paling perlu diperhatikan, setelah pada pemantauan 28 Oktober menyumbang 84 dari 118 hotspot high confidence nasional.
Pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar kapan hujan turun, tetapi seberapa efektif hujan tersebut membasahi gambut dan menghentikan bara yang masih tersisa.
Sebab, bagi kawasan gambut, hujan mungkin memadamkan api yang terlihat, tetapi penanganan belum selesai sebelum bara di bawah permukaan benar-benar dinyatakan padam.(*)










