Stok beras aman, Tapi Kaltim masih bergantung pada Jawa dan Sulawesi
BALIKPAPAN, LEGIO.ID – Di tengah klaim stok beras yang aman hingga akhir tahun, Kalimantan Timur (Kaltim), masih menghadapi persoalan mendasar dalam ketahanan pangan. Cadangan beras Bulog Kaltimtara mencapai sekitar 15.000 ton, tetapi sebagian kebutuhan daerah tetap harus dipenuhi dari luar wilayah, terutama Jawa dan Sulawesi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam sistem pangan Kaltim. Dari sisi cadangan, pasokan memang dinyatakan mencukupi untuk menopang bantuan pangan, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga Desember 2026. Namun, dari sisi produksi, daerah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan berasnya sendiri.
Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltimtara, Musazdin Said, mengakui pasokan beras Kaltim selama ini masih mengandalkan distribusi dari wilayah surplus. Beras didatangkan dari Jawa dan Sulawesi melalui mekanisme pemerataan stok antarwilayah.
Situasi ini semakin terlihat ketika produksi lokal menghadapi tekanan cuaca. Sebelumnya, Bulog Kaltimtara menyebut target penyerapan gabah lokal sekitar 23.000 ton, tetapi realisasinya baru sekitar 15.000 ton akibat kekeringan berkepanjangan. Samarinda dan Kutai Kartanegara yang selama ini menjadi wilayah penopang produksi lokal ikut terdampak.
Pada 24 September 2026, pasokan dari luar daerah kembali menjadi bagian penting dari strategi pengamanan pangan Kaltim. Sebanyak 16.000 ton beras didatangkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur di tengah kondisi kekeringan yang menghambat produksi lokal.
“Untuk Kaltim sendiri, ketahanan pangannya memang selama ini masih didatangkan dari Jawa dan Sulawesi melalui pemerataan stok saat wilayah tersebut surplus,” ucap Musazdin saat menjadi pembicara dalam diskusi ketahanan pangan di Samarinda, Kamis (24/9/2026).
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Kaltim bukan semata-mata kekurangan beras di pasar. Tantangan yang lebih besar adalah kemampuan daerah memproduksi dan menjaga pasokan pangannya sendiri.
Stok Bulog memang dapat menjadi bantalan ketika produksi lokal terganggu. Tetapi ketergantungan terhadap daerah surplus juga membuat sistem pangan Kaltim berhadapan dengan persoalan jarak distribusi, biaya logistik, kondisi cuaca, dan ketersediaan pasokan di daerah asal.
Persoalan distribusi bahkan menjadi tantangan tersendiri di dalam Kaltim. Bulog menyebut sumber pasokan masih terpusat di fasilitas gudang logistik Samarinda, sementara wilayah operasionalnya mencakup Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Bontang hingga Mahakam Ulu. Karena itu, Bulog tengah menyiapkan pemerataan fasilitas gudang untuk memperpendek jalur distribusi.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu melihat persoalan ini bukan hanya sebagai urusan menjaga stok beras, tetapi juga sebagai agenda membangun basis produksi pangan lokal.
Jika produksi dalam daerah terus tertinggal sementara kebutuhan dipenuhi melalui pasokan dari Jawa dan Sulawesi, maka predikat stok beras aman belum sepenuhnya menggambarkan kemandirian pangan Kaltim.
Yang perlu dijawab bukan hanya berapa ton beras yang tersedia di gudang, tetapi juga berapa besar kebutuhan masyarakat yang mampu dipenuhi dari hasil produksi petani Kaltim sendiri.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di tengah ancaman kemarau panjang. BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi lebih panjang dan relatif lebih kering dibandingkan 2025.
Karena itu, keberadaan stok 15.000 ton patut dilihat sebagai langkah pengamanan jangka pendek. Untuk jangka panjang, tantangannya jauh lebih besar: memperkuat irigasi, menjaga lahan pangan, meningkatkan produktivitas petani, memperkuat infrastruktur pascapanen, serta memastikan produksi lokal memiliki pasar dan harga yang menguntungkan petani. (Ai/PROPUBLIKA/tim)











