Prof Bhayu Rhama Menang Telak, Terpilih sebagai Rektor UPR
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Prof Dr Bhayu Rhama ST MBA PhD, terpilih sebagai Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 setelah meraih suara terbanyak dalam pemilihan tahap II, yang dilaksanakan di rektorat UPR, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan informasi yang diterima, Bhayu meraih 37 suara, unggul jauh dari dua pesaingnya, yakni Dr Thea Farina Embang SH MKn yang memperoleh 14 suara, dan Prof Dr Liswara Neneng SPd MSi mengantongi 12 suara.
Hasil tersebut menunjukkan perubahan peta dukungan yang cukup tajam dibandingkan pemilihan tahap pertama. Thea yang sebelumnya tampil sebagai peraih suara terbanyak pada tahap awal, justru berada di posisi kedua dalam pemilihan tahap II. Sementara Liswara berada di posisi ketiga.
Dengan perolehan 37 suara, Bhayu mengamankan lebih dari separuh total suara yang disebutkan dalam hasil pemilihan tahap II. Perolehan tersebut sekaligus menempatkannya sebagai calon dengan dukungan paling besar dalam tahapan penentuan rektor UPR periode mendatang. Rencanya pelantikan Prof Bayu sebagai Rektor UPR akan dilaksanakan 5 Oktober 2025.
Pemilihan ini merupakan puncak dari rangkaian panjang Pilrek UPR. Pada tahap awal, terdapat empat bakal calon yang dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi, yakni Bhayu Rhama, Thea Farina Embang, Natalina Asi, dan Liswara Neneng.
Selanjutnya, tiga nama melaju ke tahapan akhir, yakni Bhayu Rhama, Thea Farina Embang, dan Liswara Neneng. Ketiganya kemudian menjalani wawancara dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 20 Agustus 2026 sebelum proses pemilihan tahap II.
Sebelum memasuki tahap penentuan, ketiga kandidat juga memaparkan gagasan dan visi kepemimpinan di hadapan sivitas akademika. Dalam dialog terbuka yang digelar mahasiswa UPR, sejumlah persoalan menjadi perhatian, mulai dari pemerataan pembangunan infrastruktur, modernisasi laboratorium, peningkatan kualitas ruang kelas dan perpustakaan, penguatan akses internet, hingga transparansi tata kelola kampus.
Bhayu sendiri sebelumnya mengusung visi “Borneo Impact and Global Recognition”. Ia menawarkan penguatan posisi UPR sebagai pusat pendidikan, riset dan inovasi yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat Kalimantan Tengah sekaligus meningkatkan pengakuan UPR di tingkat nasional dan internasional.
Dalam proses pencalonannya, Bhayu tercatat menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR. Ia sebelumnya menyatakan bahwa kampus harus mampu menjawab persoalan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian dan inovasi.
Kemenangan dalam tahap II sekaligus mengakhiri rangkaian kontestasi untuk menentukan penerus Prof. Salampak sebagai Rektor UPR. Sebelumnya, Salampak berharap rektor berikutnya memiliki bukan hanya kapasitas akademik, tetapi juga kemampuan manajerial untuk menjalankan program dan target universitas.
Kini, tantangan berikutnya berada di tangan Bhayu. Setelah terpilih, kepemimpinan baru UPR akan dihadapkan pada tuntutan untuk memperkuat kualitas akademik, riset, infrastruktur, tata kelola, serta menjawab aspirasi mahasiswa dan sivitas akademika yang telah disampaikan selama proses pemilihan.
Kemenangan dengan selisih suara yang cukup lebar membuat Bhayu memperoleh mandat kuat dari pemilih dalam tahap penentuan. Namun, besarnya dukungan tersebut juga membawa ekspektasi besar agar kepemimpinan baru UPR mampu menerjemahkan visi kampus berdampak dan berdaya saing menjadi program nyata.
*Tim legio/berbagai sumber/AI











