5.044 titik panas mengancam Kalteng, Asap dan kekeringan belum berakhir
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum berakhir di Kalimantan Tengah. Ribuan titik panas masih terpantau, sementara kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Kepala BMKG Kalimantan Tengah Sugiyono mengatakan terdapat sekitar 5.044 titik panas yang terpantau di Kalteng. Dari jumlah tersebut, 642 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan berpotensi berkembang menjadi kebakaran.
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di wilayah selatan Kalteng. Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Sukamara menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian karena memiliki kawasan gambut yang mudah terbakar.
Di Palangka Raya, dampak kabut asap terlihat dari menurunnya jarak pandang. Pada Selasa (6/10/2026) pagi, jarak pandang hanya berada pada kisaran 200 hingga 400 meter. Kondisi tersebut dinilai tidak aman untuk aktivitas penerbangan sekaligus menjadi indikator bahwa kualitas udara masih perlu diwaspadai.
BMKG menyebut musim hujan mulai masuk ke sejumlah wilayah Kalteng secara bertahap. Pergerakannya dimulai dari bagian utara dan barat, kemudian menuju selatan. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengakhiri ancaman karhutla.
Fenomena El Niño diperkirakan masih berlangsung. Curah hujan pada awal musim penghujan berpotensi berada di bawah kondisi normal sehingga lahan gambut tetap rentan mengalami kekeringan dan terbakar.
“BMKG sudah mengingatkan sejumlah wilayah Kalteng, terutama bagian selatan, timur, dan barat, memiliki potensi tinggi mengalami kekeringan dan karhutla,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur Imam Subekti.
Pemerintah daerah bersama BNPB dan BMKG telah melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membasahi kawasan rawan. Informasi mengenai cuaca, iklim, titik panas, dan potensi kekeringan juga terus diperbarui sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan.
Di Kotawaringin Timur, OMC telah dilakukan sejak akhir Juni. Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi dampak kekeringan sekaligus membantu proses pendinginan di kawasan rawan kebakaran. Namun, kondisi kemarau dan pengaruh El Niño membuat upaya penanganan tidak selalu berjalan optimal.
Di Kotawaringin Timur, jumlah hotspot tercatat 636 titik, terdiri atas 593 titik kategori sedang, 19 titik rendah, dan 24 titik tinggi. Titik panas dengan kategori tinggi terpantau di Kecamatan Pulau Hanaut dan Seranau.
Untuk menangani titik api di Seranau, sekitar 40 personel gabungan dikerahkan bersama peralatan pendukung, termasuk embung yang digunakan untuk memasok air secara estafet ke lokasi yang sulit dijangkau.
Pada saat bersamaan, pemerintah daerah harus menghadapi persoalan kekeringan dan krisis air. Distribusi air bersih dilakukan setiap hari ke sejumlah wilayah, termasuk Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, serta kawasan Mentaya Baru Ketapang.
Sekitar 30 armada dari pemerintah daerah, PDAM, perangkat daerah, hingga perusahaan perkebunan dilibatkan dalam distribusi tersebut. Pemantauan titik karhutla juga dilakukan melalui ground check sejak malam hingga pagi sebagai bahan penyusunan operasi harian.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan Kalteng bukan hanya soal memadamkan api. Pemerintah menghadapi persoalan yang saling berkaitan antara kebakaran gambut, kekeringan, krisis air, dan pencemaran udara.
Dengan ribuan titik panas masih terpantau dan musim hujan yang belum sepenuhnya tiba, kewaspadaan tidak boleh diturunkan. Penanganan karhutla harus bergeser dari sekadar mengejar titik api menuju pencegahan yang lebih kuat di kawasan gambut dan wilayah yang berulang kali menjadi sumber kebakaran. (*) (AL/berbagai sumber)











