HUT ke-16, K3LDP gelar syukuran usai renovasi makam leluhur di Lagub
Nunukan, legio.id — Forum Kerukunan Komunitas Karyawan Lokal Desa Payang (K3LDP), Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, menggelar syukuran hari jadi ke-16 dengan agenda utama syukuran renovasi Makam Leluhur di Lagub, Sabtu (24/10/2026).
Ketua K3LDP Julianto mengatakan HUT sebenarnya jatuh jatuh tepat pada tanggal 20 Oktober 2026, namun disepakati terlebih dahulu digelar syukuran karena lebih penting dan bermakna serta sakral adalah Syukuran Makam Leluhur.
“Itulah alasan kenapa syukuran lebih kita dahulukan ketimbang HUT,” ujarnya.
Renovasi makam leluhur disebut menjadi program besar tahun ini. Julianto menyebut makam tersebut telah ratusan tahun terabaikan sebelum wilayah itu dibabat oleh investor yang ingin mencari keuntungan.
“Dengan adanya Forum K3LDP di usia 16 tahun, makam leluhur baru bisa kita renovasi,” katanya.
Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama dan ritual adat penajakan Tugu penghormatan kepada Yaki Manabi serta leluhur Dayak Agabag. Acara dilanjutkan sambutan tokoh adat, pemotongan tumpeng sebagai simbol syukur, dan makan bersama. Sore harinya digelar hiburan rakyat berupa tarian Angalang dari anak-anak Desa Payang.
“Kita campur, ada doa adat, ada doa agama, biar semua merasa memiliki,” beber Julianto.
Dia pun menegaskan K3LDP tidak berdiri sendiri. Forum ini lahir dari Desa Payang dan selalu melibatkan tokoh adat, pemerintah desa, serta warga.
“Sebelum renovasi makam leluhur, kita minta restu dulu kepada Kepala Adat Desa Payang serta seluruh keluarga besar. Prinsip kami, K3LDP bukan milik pengurus saja, tapi milik Desa Payang,” tegasnya.
Selain renovasi makam, K3LDP menjalankan program rutin bulanan: pertemuan anggota, bakti sosial di area makam leluhur, pertemuan pengurus inti, serta pendampingan bagi anak muda yang ingin bekerja di pertambangan batu bara. Forum ini dikenal sebagai forum tertua dan berprestasi di lingkup perusahaan hingga masyarakat Kabupaten Nunukan, Malinau, dan KTT.
Tantangan terberat, kata Julianto, adalah menjaga kekompakan anggota yang berlatar belakang Dayak Agabag, Tenggalan, Tidung, Toraja, Bugis, Timur, Batak, Jawa, dan Manado.
“Cara mengatasinya, kita selalu pakai musyawarah, komunikasi duduk bersama. Semua didengar, tidak ada keputusan sendiri,” jelasnya.
Dia berharap K3LDP semakin solid dan menjadi jembatan antara perusahaan, pemerintah desa, dan warga.
“Sesuai moto K3LDP: Pejuang Pemikir, Pemikir Pejuang. Tidak hanya untuk anggota, tapi untuk Desa Payang secara umum,” ujarnya.
Kepada generasi muda, Julianto berpesan agar tidak melupakan adat dan jati diri.
“Kamu boleh kerja di mana saja, pakai seragam apa saja, tapi ingat jati dirimu. Jaga makam leluhur, jaga martabat leluhur, jaga bahasa kita, jaga gotong royong kita,” pungkasnya.
Sumber: Red/OF










