Alat sadap anti HAM
oleh : Erizeli Jely Bandaro
Predator adalah spyware untuk menyusup ke smartphone dan mengambil data secara diam-diam. Ia berupa software beserta infrastruktur pengoperasiannya, bukan sekadar perangkat sadap fisik. Predator awalnya dikembangkan oleh Cytrox, perusahaan di Makedonia Utara, kemudian dipasarkan melalui kelompok Intellexa, yang didirikan oleh Tal Dilian, mantan perwira militer Israel. Jaringan perusahaannya melibatkan beberapa negara. Predator berbeda dengan Pegasus, produk NSO Group dari Israel.
Jika berhasil menginfeksi perangkat, Predator dapat memberikan akses yang sangat luas kepada operatornya. Kemampuan yang dilaporkan mencakup pengambilan pesan, kontak, dan data perangkat, serta pengawasan melalui mikrofon dan fungsi lainnya. Cara masuknya memanfaatkan celah keamanan. Citizen Lab mendokumentasikan kasus pada 2021 ketika korban terinfeksi setelah membuka malicious link yang dikirim melalui WhatsApp.
Bahaya utamanya adalah penguasaan endpoint, yaitu ponsel tempat komunikasi dibaca dan didengar. Secara teknis, jika perangkat sudah dikuasai, pesan dapat diambil ketika tampil dalam keadaan terbaca. Karena itu, end-to-end encryption tidak dengan sendirinya melindungi komunikasi pada ponsel yang telah terinfeksiโyang diserang adalah perangkatnya, bukan harus memecahkan enkripsi selama pengiriman.
Nah predator itulah yang katanya dipakai tersangka penyadapan presiden dan tokoh lainnya. Padahal Amnesty dan Citizen Lab pernah menemukan indikasi infrastruktur atau aktivitas terkait Predator sudah peringatkan bahaya ini. Namun tidak ditanggapi serius. Karena ini benar benar melanggar HAM, kalau negara membiarkan alat ini bekerja.
*Salin tempel dari group Facebook DDB











