Luas panen padi Kalteng menyusut 6,93 persen, produksi beras naik tipis
PALANGKA RAYA, LEGIO.ID – Luas panen padi di Provinsi Kalimantan Tengah pada 2026 diperkirakan menyusut 6,93 persen menjadi 90,42 ribu hektare, namun produksi beras tetap tumbuh tipis 0,55 persen menjadi 199,16 ribu ton.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah Toto Haryanto Silitonga saat menyampaikan rilis statistik di Palangka Raya, Senin, mengatakan berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 87,22 ribu hektare, turun 0,57 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 87,72 ribu hektare.
Sementara itu, potensi luas panen pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan hanya sekitar 3,21 ribu hektare. Dengan demikian, total luas panen sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 90,42 ribu hektare, berkurang 6,73 ribu hektare dibandingkan 2025 yang mencapai 97,15 ribu hektare.
Penyusutan tersebut juga terlihat dari perbandingan puncak panen. Pada Agustus 2026, luas panen padi tercatat 17,59 ribu hektare, lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 20,43 ribu hektare.
“Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan luas panen pada periode yang selama ini menjadi puncak produksi padi tahunan,” beber Toto.
Dari sisi produksi, padi sepanjang Januari-September 2026 menghasilkan sekitar 323,38 ribu ton gabah kering giling (GKG), meningkat 6,63 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 303,28 ribu ton GKG. Namun, potensi produksi pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan hanya 11,9 ribu ton GKG.
Dengan perkembangan tersebut, total produksi padi Kalimantan Tengah pada 2026 diproyeksikan mencapai 335,28 ribu ton GKG, meningkat 0,55 persen dibandingkan 2025 sebanyak 333,43 ribu ton GKG.
“Produksi tertinggi terjadi pada Agustus sebesar 70,58 ribu ton GKG, sedangkan produksi terendah diperkirakan terjadi pada Desember sekitar 0,56 ribu ton GKG,” kata Toto.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Katingan menjadi tiga daerah dengan produksi padi tertinggi di Kalimantan Tengah. Sebaliknya, Palangka Raya, Gunung Mas, dan Murung Raya berada pada kelompok produksi terendah. Penurunan produksi cukup besar terjadi di Lamandau, Barito Utara, dan Kotawaringin Barat, sedangkan peningkatan tercatat di Gunung Mas, Palangka Raya, dan Murung Raya.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, produksi beras Kalimantan Tengah sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 192,09 ribu ton, meningkat 6,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 180,15 ribu ton. Namun, potensi produksi beras pada Oktober-Desember 2026 hanya sekitar 7,07 ribu ton.
Secara keseluruhan, produksi beras Kalimantan Tengah pada 2026 diproyeksikan mencapai 199,16 ribu ton, bertambah 1,10 ribu ton dibandingkan 2025 sebanyak 198,06 ribu ton. Produksi tertinggi terjadi pada Agustus sebesar 41,93 ribu ton, sedangkan Desember diperkirakan menjadi periode terendah dengan produksi sekitar 0,33 ribu ton.
Data tersebut menjadi gambaran penting bagi pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan ketahanan pangan, terutama menjaga keberlanjutan lahan pertanian, meningkatkan produktivitas per hektare, serta memperkuat kawasan sentra produksi.
Kenaikan produksi yang tipis di tengah penyusutan luas panen menunjukkan perlunya upaya lebih serius, agar kapasitas produksi pangan daerah tidak terus tertekan.
*E1.











