Populasi Lansia Meningkat Pesat, Sistem Kesehatan di Asia Tenggara harus Berbenah
JAKARTA, LEGIO.ID — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti peningkatan pesat populasi lanjut usia di kawasan Asia Tenggara. Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan hampir dua kali lipat, dari 11,3 persen pada 2024 menjadi 20,9 persen pada 2050.
Pejabat Penanggung Jawab WHO Asia Tenggara, Dr. Nilesh Buddha mengatakan, peningkatan usia harapan hidup harus diikuti dengan kualitas hidup yang lebih baik. Sebab, banyak lansia justru menghabiskan sebagian tahun terakhir kehidupannya dalam kondisi kesehatan buruk, mengalami disabilitas, atau membutuhkan perawatan.
“Pada usia 60 tahun, kesenjangan rentang kesehatan regional mencapai 4,6 tahun,” kata Nilesh Buddha seperti dikutip dari website WHO, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, angka tersebut menggambarkan periode kehidupan yang dijalani seseorang dengan penyakit kronis atau kondisi kesehatan yang buruk.
WHO menyampaikan persoalan penuaan tidak bisa lagi dipandang semata-mata sebagai urusan sektor kesehatan. Tema Hari Lansia Internasional tahun ini, ‘Era Panjang Umur: Memikirkan Kembali Sistem untuk Kehidupan yang Lebih Panjang’, menekankan perlunya keterlibatan sektor kesehatan, perlindungan sosial, perumahan, pemerintah daerah, hingga sektor lainnya.
Sejumlah negara di kawasan tersebut mulai menerjemahkan agenda penuaan sehat ke dalam kebijakan nasional dan daerah. Thailand, Bhutan, Sri Lanka, India, dan Timor-Leste telah mengembangkan program perawatan terpadu, perawatan jangka panjang, lingkungan ramah lansia, serta penguatan kelembagaan.
Namun, WHO masih menemukan sejumlah kesenjangan. Pembiayaan penuaan sehat dan perawatan jangka panjang belum memadai, sementara kekurangan tenaga kesehatan dan tenaga perawatan terlatih turut membatasi akses layanan. Pengasuh keluarga dan tenaga profesional juga dinilai masih membutuhkan dukungan, pelatihan, serta perlindungan sosial yang lebih kuat.
WHO juga menyoroti ketimpangan akses terhadap teknologi digital dan alat bantu, keterbatasan data berdasarkan kelompok usia, serta minimnya keterlibatan lansia dalam pengambilan keputusan.
“Menutup kesenjangan ini membutuhkan pendekatan menyeluruh dari pemerintah dan masyarakat,” tegas Buddha.
Strategi Regional WHO Asia Tenggara tentang Penuaan Sehat 2024–2030 menetapkan empat prioritas, yakni melawan diskriminasi berdasarkan usia, menciptakan lingkungan ramah lansia, menyediakan perawatan terpadu, serta memastikan akses terhadap perawatan jangka panjang. WHO juga mendorong penguatan layanan primer agar kebutuhan kesehatan lansia menjadi bagian dari upaya mencapai cakupan kesehatan universal.
WHO menegaskan masyarakat lanjut usia bukanlah beban, melainkan sumber pengalaman, kebijaksanaan, dan ketahanan.
“Kita tidak hanya perlu menambah tahun dalam hidup, tetapi juga menambah makna hidup dalam tahun-tahun yang kita jalani,” tandas Buddha.
*WHO/AI/J.M











