SDM di Lapas Tarakan Terbatas, 84 Petugas Awasi 1.400 Warga Binaan dan Satu Orang Jaga Tiga Blok
TARAKAN, LEGIO.ID — Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tarakan menghadapi persoalan krusial di tengah kondisi overkapasitas akibat keterbatasan sumber daya manusia (SDM), yakni 84 petugas menjaga, mengawasi hingga pembinaan kepada 1.400 warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, mengakui kondisi ini membuat pengawasan tidak bisa berjalan maksimal. Dalam kondisi tertentu, satu petugas terpaksa harus mengawasi tiga blok sekaligus.
“Jadi satu orang bayangkan coba. Satu, tiga blok dijaga satu orang. Gimana coba? Apa kita orang mampu? Gak mampu kecuali kalau kita malaikat,” ujar Jupri dalam wawancara dengan Legio.id, Jumat (23/10/2026).
Jupri menjelaskan, rasio petugas di Tarakan sangat jauh berbeda dengan Lapas Balikpapan. Ia mencontohkan, Lapas Balikpapan memiliki 130 petugas untuk mengawasi sekitar 8.000 warga binaan. Sementara di Tarakan, beban kerja menumpuk pada jumlah personel yang jauh lebih sedikit.
“Balikpapan aja itu 130 pegawainya. Isi 8.000. Tapi di Tarakan berapa coba pegawainya? 84. Enggak sebanding,” katanya.
Minimnya petugas berdampak langsung pada pengawasan di dalam blok hunian. Jupri menyebut pihaknya mengandalkan patroli keliling dengan interval waktu yang ketat, mulai dari 30 menit hingga satu jam.
“Kadang 30 menit kontrol. Keliling. Kadang kita masuk berangga juga kita keliling berangga,” ujarnya.
Namun, keterbatasan ini dinilai turut berkontribusi pada insiden keamanan, seperti kasus penikaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu, petugas yang tengah berjaga tidak bisa memantau seluruh blok secara serentak. Meski demikian, Jupri menegaskan pihaknya bergerak cepat mengamankan pelaku, dan kasus tersebut telah diserahkan serta diproses hukum oleh pihak kepolisian.
“Itu karena keterbatasan pegawai tadi. Pas kejadian itulah, datanglah pegawai, berantem adu mulut, langsung ditikam spontan,” kata Jupri.
Selain mengawasi warga binaan, 84 petugas tersebut juga harus melayani pemeriksaan pengunjung secara manual akibat kerusakan X-ray. Jupri menyebut pihaknya dibantu mahasiswa praktik untuk menambal kekurangan personel di pos pemeriksaan.
“Yang tadinya di situ tenaganya cuma dua orang, akhirnya di situ harus lima orang, enam orang. Itu pun kami terbantu anak-anak mahasiswa,” ujarnya.
Jupri mengaku telah mengajukan penambahan personel ke pemerintah pusat. Namun, ia menghadapi kendala lain: sebagian besar petugas yang ada merupakan orang Balikpapan dan Samarinda yang terus mengajukan mutasi karena ingin dekat dengan keluarga.
“Orang pegawai yang 84 itu hampir 60% itu orang Balikpapan sama orang Samarinda. Kalau saya buka kesempatan sedikit, mereka mengajukan pindah,” katanya.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya fasilitas perumahan di Tarakan serta tingginya biaya hidup, sehingga banyak petugas yang enggan bertahan. Hingga berita ini diturunkan, Legio.id masih berupaya mengonfirmasi pihak Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait usulan penambahan personel ini.
Lapas Tarakan pun masih beroperasi dengan rasio pengawasan yang jauh dari ideal, menuntut petugas bekerja ekstra memastikan keamanan dan pelayanan tetap berjalan.
Sumber: Red/RadarTarakan/AI/OF











