El Niño Perpanjang Kemarau di Jawa Timur , Kekeringan Ekstrem Perlu Diwaspadai
Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat memperpanjang musim kemarau di Jawa Timur pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kondisi kering masih perlu diwaspadai hingga Oktober–November 2026 karena curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi masih rendah. Informasi tersebut disampaikan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur dan diberitakan detikJatim pada Kamis (24/9/2026).
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Retno Wulandari, menjelaskan kondisi tanpa hujan yang panjang merupakan kombinasi antara karakteristik musim kemarau dan pengaruh fenomena iklim global. Pada musim kemarau, Jawa Timur dipengaruhi Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dari Australia menuju Indonesia. Kondisi atmosfer yang lebih kering tersebut membatasi pembentukan awan hujan sehingga peluang terjadinya hujan semakin rendah.
Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh El Niño 2026 yang menurut pemantauan BMKG masih menunjukkan penguatan dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Fenomena tersebut berkontribusi memperpanjang periode kemarau serta berpotensi menyebabkan awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
BMKG menyebut Oktober hingga November 2026 menjadi periode yang perlu mendapat perhatian. Pada Oktober, hampir seluruh wilayah Jawa Timur diprediksi memperoleh curah hujan dalam kategori rendah, dengan sebagian besar wilayah berada pada kisaran 0–20 milimeter dan 21–50 milimeter per bulan. Memasuki November, curah hujan diperkirakan mulai meningkat di sejumlah wilayah, tetapi sebagian besar Jawa Timur masih berada pada kategori rendah hingga menengah.
Kondisi kekeringan juga tercermin dari pemantauan BMKG per 20 September 2026. Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di Jawa Timur secara umum telah mencapai kategori kekeringan ekstrem, yakni lebih dari 60 hari. Pada periode yang sama, distribusi curah hujan pada dasarian II September secara umum berada dalam kategori rendah.
Secara nasional, BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Niño berada pada intensitas sangat kuat. Anomali suhu muka laut wilayah Nino3.4 pada akhir Agustus tercatat +2,83, sedangkan indeks ENSO periode Juli–Agustus–September mencapai +2,63. BMKG juga mencatat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada nilai positif dan berpotensi bertahan hingga akhir tahun. Kombinasi El Niño dan IOD dapat mengurangi curah hujan serta memperpanjang periode kekeringan.
Dampak kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air. Di Surabaya, BPBD telah melakukan langkah antisipasi melalui koordinasi dengan BMKG, perluasan sumber daya air bersih, penghijauan, penyediaan area teduh, serta edukasi kepada masyarakat untuk menghemat air dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran. BPBD Surabaya juga mencatat 76 kejadian kebakaran selama Agustus 2026, dengan Surabaya Barat dan Surabaya Timur disebut sebagai wilayah yang rawan.
BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis. Karena itu, masyarakat Jawa Timur diimbau mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru serta menyesuaikan penggunaan air dan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran selama periode kemarau masih berlangsung.
Sumber : AI/detik news/deo











