Bukan Sekadar Makam, Jejak Leluhur Desa Payang Perlu Dijaga Generasi Muda
NUNUKAN, Legio.id — Makam leluhur Desa Payang di Lagub, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan menyimpan jejak perjalanan para leluhur yang sejarahnya masih diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasi secara tertulis.
Sebanyak tiga leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut dikenal dengan nama Yaki Manabi, Yaki Yom Puyou, dan Yadu Yang Adap ini, mulai diketahui keberadaannya oleh masyarakat Desa Payang pada tahun 2001. Hingga kini, cerita mengenai perjalanan hidup mereka masih disampaikan dari generasi ke generasi.
Tokoh masyarakat setempat, Saling Sumirman, mengatakan sejarah makam leluhur tersebut belum pernah dibukukan. Padahal, menurutnya, dokumentasi penting agar generasi muda dapat mengenal asal-usul dan perjalanan para pendahulu mereka.
“Selama ini, sejarah makam leluhur ini hanya disampaikan dari generasi ke generasi. Belum pernah ditulis atau didokumentasikan, sehingga penting bagi kita untuk menjaga dan mewariskan ceritanya kepada anak cucu,” kata Saling saat diwawancarai Legio.id, Selasa (20/10/2026).
Dalam bahasa Dayak Agabag, kata yaki berarti kakek, sedangkan yadu berarti nenek. Sebutan tersebut menjadi bagian dari warisan bahasa dan budaya yang menghubungkan generasi sekarang dengan para leluhurnya.
Kisah Yaki Manabi sendiri menyimpan perjalanan panjang, mulai dari perpindahan kelompok leluhur, kehidupan di sekitar Sungai Sembakung, hingga perjalanan yang membawa mereka ke Lagub. Cerita yang diwariskan secara lisan itu menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Pembaca yang ingin mengetahui cerita singkat perjalanan Yaki Manabi dan para leluhur Desa Payang dapat membacanya melalui artikel khusus: Baca kisah lengkap Yaki Manabi dan perjalanan leluhur Desa Payang.
Momentum syukuran dan peresmian renovasi makam yang digelar di kawasan Sekretariat K3LDP LAGUB, Jalan Yaki Manabi, menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur. Renovasi tidak hanya menyangkut perbaikan fisik makam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali perhatian masyarakat terhadap sejarah yang menyertainya.
“Makna paling penting dari kegiatan ini adalah menjaga sejarah agar tidak hilang dan tetap dikenal generasi penerus. Makam ini menjadi pengingat perjalanan hidup leluhur yang perlu diketahui oleh anak cucu,” ujar Saling.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal makam tersebut, tetapi juga ikut merawatnya dan menjaga cerita sejarah yang diwariskan para pendahulu.
“Harapan saya, anak-anak muda benar-benar menjaga dan merawat makam ini. Setelah diperbaiki seperti sekarang, kita ingin generasi berikutnya turut melestarikan makam leluhur ini sampai kapan pun,” katanya.
Bagi Saling, pelestarian makam perlu berjalan seiring dengan pendokumentasian sejarah. Keterangan para tetua adat dan tokoh masyarakat perlu dihimpun serta diperiksa kembali agar kisah asal-usul Desa Payang dapat diwariskan secara lebih jelas kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, makam leluhur di Lagub bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan juga penghubung antargenerasi. Menjaganya berarti merawat ingatan kolektif tentang asal-usul masyarakat, agar tidak hilang ditelan waktu.
Sumber: Red/OF











