Jejak Leluhur di Tanah Lagub, Sebuah Kisah dari Desa Payang
Alkisah, di sebuah desa yang bernama Payang, hiduplah sekelompok masyarakat yang hidup rukun dan damai. Desa itu terletak di kawasan hulu sungai, dikelilingi oleh hutan lebat dan aliran sungai yang jernih. Namun, kedamaian itu tidak bertahan selamanya. Konflik internal mulai merebak di antara warga desa, memecah belah persaudaraan yang selama ini terjalin erat.
Di tengah gejolak itu, seorang pemuda bernama Yaki Manabi memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak sendirian. Bersama kelompoknyaโtermasuk saudaranya, Yaki Mongโia menyusuri Sungai Sembakung, bergerak dari hulu menuju hilir, mencari tempat baru yang dapat memberikan ketenangan.
Perjalanan itu dimulai setelah ayahnyaโyang dalam penuturan lisan disebut sebagai Yantudolโmenghembuskan napas terakhir. Adapun Lumajut adalah saudara dari Yantudol, atau dengan kata lain om dari Yaki Manabi dan Yaki Mong. Yaki Manabi dan rombongannya kemudian menetap sementara di sekitar Sungai Kelatan. Di sana, mereka menjalani kehidupan sederhana, memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia. Pohon nipah tumbuh subur di sepanjang sungai, dan mereka mengolahnya menjadi garam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hari-hari berlalu dengan tenang. Namun, ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.
Pada suatu masa, ketika sebagian warga sedang berada di luar permukiman untuk mencari bahan pembuatan garam di sekitar muara Sungai Sembakung, malapetaka datang tanpa diduga. Sekelompok penyerangโyang dalam cerita lisan disebut sebagai Suku Bauโmenyerbu permukiman mereka. Api membakar tempat tinggal, dan banyak warga menjadi korban.
Yaki Manabi dan Yaki Mong, yang saat itu sedang berada di luar, selamat dari serangan itu. Namun, ketika mereka kembali, yang mereka temukan hanyalah puing-puing yang hangus dan ratapan duka. Hati Yaki Manabi dipenuhi amarah dan kesedihan. Ia bersumpah akan mengejar kelompok penyerang untuk membalas kejadian yang menimpa kaumnya.
Yaki Mong, yang sedang sakit, tidak dapat melanjutkan perjalanan. Ia kemudian tinggal dan dirawat oleh masyarakat Tidung di Desa Atap. Sementara itu, Yaki Manabi meneruskan perjalanan seorang diri, menyusuri sungai demi sungai, hingga tiba di kawasan Sangsang Tinimbou, tak jauh dari muara Sungai Sembakung.
Di tempat itu, Yaki Manabi bertemu dengan sepasang suami istri yang juga berasal dari Desa Payang. Mereka adalah Yaki YomPoyou dan Yadu YangAdab.
Menurut cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, Yaki YomPoyou dan Yadu YangAdab menikah meskipun ayah dan ibu mereka bersaudara. Hubungan kekerabatan yang terlalu dekat itu dianggap melanggar ketentuan adat. Karena itu, keduanya dikenai sanksi dan diasingkan dari lingkungan asalnya.
Hukuman pada masa itu konon sangat berat. Mereka yang dianggap melanggar adat dapat dimasukkan ke dalam perangkap ikan dan dibuang ke sungai. Namun, Yaki YomPoyou dan Yadu YangAdab selamat dari hukuman itu dan memilih meninggalkan kampung halaman, mencari tempat baru yang dapat menerima mereka.
Ketika mendengar kisah serangan yang menimpa kelompok Yaki Manabi, hati Yaki YomPoyou dan Yadu YangAdab tergerak. Mereka memutuskan untuk bergabung, bahu-membahu mencari kelompok penyerang yang telah menghancurkan permukiman di Sungai Kelatan.
Ketiganya kemudian menyusuri aliran sungai dan sejumlah anak sungai. Mereka melewati Sungai Linuang Kayam, terus bergerak ke hulu, hingga akhirnya tiba di kawasan yang bernama Lagub.
Namun, kelompok yang mereka cari tidak pernah ditemukan. Hari berganti hari, dan mereka pun memutuskan untuk menetap di Lagub. Di tempat baru itu, mereka membangun kehidupan dari awal, mengolah tanah dan memanfaatkan hasil hutan untuk bertahan hidup.
Sayangnya, cobaan kembali datang. Wabah penyakitโyang dalam cerita turun-temurun disebut sebagai penyakit kustaโmenyerang kelompok tersebut. Yaki Manabi, Yaki YomPoyou, dan Yadu YangAdab beserta sejumlah orang dalam kelompoknya tidak mampu bertahan. Mereka menghembuskan napas terakhir dan dimakamkan bersama-sama di kawasan Lagub.
Bertahun-tahun kemudian, kisah perjalanan ini terus diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Keberadaan makam para leluhur di Lagub baru diketahui oleh masyarakat Desa Payang pada tahun 2001. Sejak saat itu, kisah tentang Yaki Manabi, Yaki Mong, Yaki YomPoyou, dan Yadu YangAdab mulai kembali diceritakan.
Saling Sumirman, seorang tokoh masyarakat Desa Payang, menyadari betapa pentingnya menjaga kisah ini agar tidak hilang ditelan zaman. Ia menilai bahwa pendokumentasian perlu dilakukan dengan menghimpun keterangan dari para tetua adat dan tokoh masyarakat, sekaligus memeriksa kembali nama, tempat, hubungan keluarga, serta urutan peristiwa yang diceritakan.
Dengan pendokumentasian yang cermat, kisah para leluhur ini dapat menjadi warisan sejarah yang lebih mudah dipelajari oleh generasi muda. Makam di Lagub bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan pengingat akan perjalanan panjang, pengalaman pahit, dan asal-usul masyarakat yang perlu dijaga bersama.
*Cerita ini digali oleh wartawan legio/OF dari berbagai sumber, termasuk para tokoh di Desa Payang.











