Karhutla Kaltara Capai 2.639 Hektare, Gubernur Tegaskan Pemadaman Tak Boleh Kendur
Tanjung Selor, Legio.id — Gubernur Kalimantan Utara Dr Zainal Arifin Paliwang menegaskan semangat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh kendur, meskipun dihadapkan pada keterbatasan peralatan dan anggaran.
“Karhutla harus padam, tapi semangat memadamkannya jangan sampai ikut padam. Api semangat kita harus lebih menyala daripada api karhutla,” ujar Zainal kepada Legio.id di Tanjung Selor, Jumat (16/10/2026).
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara per 16 Oktober 2026 mencatat luas karhutla sepanjang 2026 mencapai 2.639,99 hektare. Kabupaten Bulungan terluas dengan 2.597,38 hektare, disusul Kota Tarakan 31,86 hektare, Kabupaten Tana Tidung 6,25 hektare, dan Kabupaten Malinau 4,50 hektare.
Zainal menekankan capaian itu bukan alasan mengendurkan kewaspadaan. “Kita semua harus bersahabat dalam menghadapi cuaca yang tidak bersahabat ini,” ujarnya.
Tantangan utama penanganan karhutla di Kaltara adalah lahan gambut seluas 347.451 hektare. Api yang tampak padam di permukaan belum tentu mati karena bara bertahan di lapisan bawah.
“Di atas itu dia padam, tetapi di dalam gambutnya kita harus memastikan bara api benar-benar mati,” jelas Zainal.
Petugas menggunakan nozzle gambut yang ditancapkan ke tanah agar air meresap ke lapisan bawah. Pembasahan dilakukan minimal satu menit per titik hingga tidak ada asap, lalu pendinginan untuk mencegah kebakaran susulan.
Zainal turun langsung memimpin pemadaman di Selimau, Kecamatan Tanjung Selor, bersama Dinas Kehutanan, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, dan relawan.
“Karhutla adalah tanggung jawab kita bersama. Saya ikut memadamkan api bukan demi panggung popularitas, melainkan ingin merasakan langsung beratnya perjuangan para petugas di lapangan,” kata Zainal.
Kaltara belum mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) karena kondisi geografis dan atmosfer dinilai masih menguntungkan.
“Kaltara tidak perlu modifikasi cuaca. Wilayah kita masih intens diguyur hujan alami setidaknya seminggu sekali. Rekayasa cuaca juga butuh biaya besar dan belum tentu berhasil,” jelas Zainal.
Berdasarkan data BMKG per 16 Oktober 2026, wilayah Bulungan diprakirakan mengalami hujan ringan dengan suhu berkisar 25-32 derajat Celsius. Meski demikian, Zainal mengingatkan cuaca dapat berubah dan kewaspadaan harus tetap dijaga.
“Jangan biarkan diammu membakar nafas dunia orang-orang yang kita cintai. Kita harus tetap bergerak, berkoordinasi, dan melakukan upaya terbaik untuk melindungi masyarakat serta lingkungan,” pungkas Zainal.
Sumber : Red/OF











