Kualitas Udara Kalimantan Memburuk, Kelompok Rentan Paling Terdampak ISPA
JAKARTA. LEGIO.ID — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla selama periode 18 Agustus hingga 21 September 2026. Dari jumlah tersebut, 40.363 kasus terjadi pada balita.
Data tersebut merupakan akumulasi dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Hingga 22 September 2026, masih terdapat 4.533 kasus ISPA, sedangkan kasus lainnya telah dinyatakan sembuh atau kembali sehat.
Di Kota Palangka Raya, Dinas Kesehatan mencatat 9.747 kasus ISPA sejak Juni hingga 24 September 2026. Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi mengatakan sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok dewasa, dan 30 persen pada lansia.
Kondisi tersebut menunjukkan kelompok usia tertentu membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Kemenkes sebelumnya menegaskan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit bawaan merupakan kelompok yang harus mendapat perlindungan ekstra selama terjadi paparan asap karhutla.
Konsultan kesehatan Agustina Doren, S.SiT., M.K.M., menjelaskan bayi dan balita memiliki kerentanan lebih tinggi karena paru-paru masih berkembang dan sistem kekebalan tubuh belum sepenuhnya matang.
“Pada bayi dan balita, paru-paru masih dalam tahap perkembangan dan sistem imun belum sempurna, sehingga paparan partikel halus seperti PM2.5 dapat dengan cepat menyebabkan peradangan saluran napas,” kata Agustina.

Menurut Agustina, ibu hamil juga perlu mendapat perhatian karena paparan polusi udara dapat berdampak terhadap kesehatan ibu maupun kehamilan.
“Riset menunjukkan bahwa ibu hamil yang terpapar polusi udara tingkat tinggi berisiko lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan janin, berat badan lahir rendah (BBLR), hingga kelahiran prematur,” ujarnya.
Sementara pada lansia, risiko dapat meningkat karena daya tahan tubuh yang menurun dan kemungkinan adanya penyakit penyerta.
“Lansia sering kali sudah memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, jantung, atau diabetes. ISPA pada kondisi ini bisa memicu perburukan penyakit yang sudah ada,” kata Agustina.
Kemenkes juga menjelaskan bahwa paparan PM2.5 dari asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Karena itu, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru perlu mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk.
Agustina meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, khususnya pada kelompok rentan.
“Pada bayi, gejala ISPA bisa berupa rewel yang tidak biasa, sulit menyusu, atau napas cepat. Pada lansia, kadang gejala tidak khas, hanya lemas dan tidak nafsu makan. Jangan abaikan tanda-tanda ini,” katanya.
Batasi Paparan Asap
Kemenkes mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Pemantauan kualitas udara juga penting untuk menentukan kapan aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi.
Agustina juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan membatasi masuknya asap dari luar dan menggunakan penyaring udara apabila tersedia.
“Jika muncul batuk terus-menerus, sesak napas, mata perih, atau keluhan lain yang mengarah pada gangguan pernapasan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Di Palangka Raya, pemerintah kota juga telah menyiapkan 43 Rumah Oksigen yang beroperasi selama 24 jam untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla. Fasilitas tersebut tersebar di 11 puskesmas, puskesmas pembantu, dan sejumlah kelurahan.
“Kesehatan kelompok rentan adalah prioritas. Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergotong royong melindungi ibu hamil, bayi, balita, dan lansia di sekitar kita. Pastikan mereka mendapatkan udara yang layak, masker yang memadai, dan akses cepat ke layanan kesehatan,” kata Agustina.
Dengan kasus ISPA yang masih ditemukan di wilayah terdampak karhutla dan kualitas udara yang dapat berubah dengan cepat, perlindungan terhadap kelompok rentan serta pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. (*)











